Bupati Dony Hadirkan Dahlan Iskan, ASN Sumedang Didorong Bangun Birokrasi Gesit dan Berorientasi Hasil

Bupati Dony Hadirkan Dahlan Iskan, ASN Sumedang Didorong Bangun Birokrasi Gesit dan Berorientasi Hasil
Bupati Dony Hadirkan Dahlan Iskan, ASN Sumedang Didorong Bangun Birokrasi Gesit dan Berorientasi Hasil
0 Komentar

“Setiap pemimpin harus memiliki visi jauh ke depan. Kepemimpinan harus mempunyai road map yang jelas untuk mewujudkan visi tersebut,” ujarnya.

Dony juga mengajak seluruh ASN di Kabupaten Sumedang untuk bersama-sama melakukan perubahan di lingkungan kerja masing-masing.

“Identifikasi perubahan apa yang ingin kita lakukan, buatkan peta jalannya untuk memastikan perubahan itu terjadi, dan kendali perubahan itu ada pada diri kita sendiri,” katanya.

Baca Juga:Perkuat Regulasi dan Tingkatkan Kinerja, Perumda Tirta Medal dan DPRD Sumedang Studi Banding ke SlemanPerkuat Rantai Pasok Nasional, UMKM Binaan Pertamina Catat Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

Selain itu, Bupati menegaskan pentingnya menjadi pemimpin yang visioner, terbuka terhadap perubahan serta mampu menjadi teladan bagi lingkungan kerja.

“Pemimpin harus open mind. Setelah open mind, akan lahir open heart dan open will. Kita juga harus mampu beradaptasi dengan kondisi saat ini dan memanfaatkan teknologi informasi,” tuturnya.

Sementara itu, Dahlan Iskan menekankan pentingnya dominasi kepemimpinan dalam kondisi organisasi yang belum berjalan normal. Menurutnya, pada situasi tertentu, peran pemimpin nomor satu bisa mencapai hingga 80 persen dalam menentukan arah organisasi.

“Dalam kondisi organisasi yang belum normal, peran pemimpin nomor satu harus sangat dominan. Bahkan bisa mencapai 80 persen karena keputusan dan arah organisasi sangat bergantung pada kepemimpinan,” ujar Dahlan.

Ia menilai kondisi tersebut biasanya terjadi ketika pembagian pekerjaan di dalam organisasi belum berjalan seimbang. Sebagian pegawai mendapatkan beban kerja sangat besar, sementara sebagian lainnya belum memperoleh tanggung jawab yang proporsional.

“Sekarang banyak pegawai yang terus diberikan pekerjaan karena dianggap mampu menyelesaikan tugas. Tetapi di sisi lain, ada juga pegawai yang justru minim pekerjaan,” katanya.

Menurut Dahlan, kondisi tersebut muncul karena adanya kekhawatiran seorang pemimpin terhadap kegagalan program maupun target organisasi. Akibatnya, tugas cenderung diberikan kepada pegawai yang dinilai paling siap dan mampu bekerja dengan baik.

Baca Juga:424 Prajurit Yonif 301/PKS Kembali dari Tugas Freeport.Ratusan Pencinta Corolla Klasik Berkumpul di Gunung Kunci

“Seorang pemimpin pasti memiliki rasa takut apabila program tidak berjalan atau gagal. Karena itu tugas biasanya diberikan kepada pegawai yang dianggap mampu dan selama ini berhasil melaksanakan pekerjaan dengan baik,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pegawai yang memiliki kapasitas dan loyalitas tinggi sering kali menerima beban pekerjaan lebih besar secara terus-menerus. Karena itu, pola tersebut harus diimbangi dengan penghargaan yang layak agar tidak menimbulkan ketimpangan maupun kejenuhan di lingkungan kerja.

0 Komentar