Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Pakar Transportasi: Masyarakat Kian Terjepit

Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Pakar Transportasi: Masyarakat Kian Terjepit
MENGANTRE: Papan bertuliskan Pertamax Habis berdiri di pintu masuk SPBU, sementara antrean sepeda motor mengular di bawah terik matahari.(Erwin/Sumeks)
0 Komentar

Pada 2021 konsumsi BBM tercatat sebesar 69,7 juta kiloliter. Angka itu naik menjadi 77,7 juta kiloliter pada 2022, meningkat lagi menjadi 79,8 juta kiloliter pada 2023, dan mencapai 82,3 juta kiloliter pada 2024.

Sebagian besar konsumsi tersebut berasal dari sektor transportasi.

Pada 2024, sektor transportasi menyerap 91,2 persen total konsumsi BBM nasional atau sekitar 75 juta kiloliter.

Angka ini jauh lebih tinggi dibanding satu dekade sebelumnya. Pada 2014, sektor transportasi masih menyerap sekitar 79,5 persen konsumsi BBM nasional.

Baca Juga:Disarpus Sumedang Gelar Lomba Resensi Buku untuk PelajarShuttle Ngetem di Bahu Jalan, Arus Lalu Lintas Jatinangor Kerap Tersendat

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia semakin bergantung pada kendaraan bermotor berbasis bahan bakar fosil, sementara transformasi menuju transportasi massal berjalan lambat.

Djoko menilai pemerintah terlalu lama memandang subsidi transportasi umum sebagai beban anggaran, bukan investasi.Padahal di banyak negara, subsidi transportasi publik justru digunakan untuk mengurangi kemacetan, menekan konsumsi energi, dan memperkuat mobilitas masyarakat.

“Pemerintah menganggap subsidi transportasi umum sebagai cost,” katanya.

Akibatnya, pembangunan sistem transportasi publik tertinggal jauh dibanding pertumbuhan kendaraan pribadi.

Di banyak kota, angkutan umum kehilangan penumpang, armada menua, trayek berkurang, dan sebagian bahkan berhenti beroperasi.

Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin bergantung pada kendaraan pribadi, yang pada akhirnya memperbesar konsumsi BBM nasional.

Menurut Djoko, pemerintah perlu melakukan reformasi besar dalam kebijakan subsidi energi.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah digitalisasi distribusi BBM subsidi melalui sistem verifikasi berbasis data kendaraan agar subsidi benar-benar diterima sektor yang membutuhkan, seperti transportasi umum dan logistik.

Baca Juga:Pemdes Mekarjaya Salurkan BLTDD Diantar ke Rumah Warga1141 Warga Girimukti  Dapat Bantuan

Selain itu, sebagian anggaran subsidi energi dapat dialihkan untuk membangun infrastruktur transportasi berkelanjutan.Mulai dari pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik, jalur sepeda, hingga trotoar yang aman bagi pejalan kaki.

Langkah tersebut dinilai lebih efektif dibanding terus mempertahankan pola subsidi yang selama ini banyak dinikmati kendaraan pribadi.(win)

0 Komentar