Lebih lanjut, Dony menekankan pentingnya kolaborasi dalam pengembangan BUMDes melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan berbagai unsur pembangunan.
“Bangunlah kolaborasi dengan melibatkan seluruh elemen pentahelix, mulai dari akademisi, pelaku usaha, komunitas, kelompok tani, hingga berbagai organisasi lainnya. Dengan cara ini, kita dapat mengorkestrasi seluruh kekuatan yang ada untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan dan mengembangkan potensi desa tanpa terjebak pada ego sektoral,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Dony juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, tata kelola yang profesional dan akuntabel, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan BUMDes.
Baca Juga:Wujudkan Sumedang Bebas LGBT, Wabup Fajar: Perkuat Pengawasan Anak di Era DigitalWest Java Extreme Walk 60K Sumedang-Garut, Bupati Dony: Pengalaman dan Perjalanan Baru
Ia menegaskan bahwa transformasi BUMDes harus dilakukan melalui peningkatan kompetensi pengelola, penerapan tata kelola yang transparan, serta pengembangan inovasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
“BUMDes harus mampu mengubah harapan menjadi kenyataan melalui peningkatan kualitas SDM, tata kelola yang akuntabel berbasis digitalisasi, serta kreativitas dan inovasi dalam mengembangkan usaha,” tegasnya.
Sebagai langkah percepatan, Bupati mendorong lahirnya BUMDes-BUMDes unggulan yang dapat menjadi percontohan bagi desa lainnya.
“Untuk melakukan perubahan harus ada champion. BUMDes yang sudah maju dan berhasil harus dijadikan pilot project sehingga dapat direplikasi oleh BUMDes lainnya. Dengan demikian, kemajuan satu desa dapat menjadi inspirasi dan penggerak bagi desa-desa lainnya di Kabupaten Sumedang,” pungkasnya. (red)
