DI tengah kota Bekasi yang makin mirip “Jakarta cabang dua”—mall beranak-pinak, jalan macet, dan barber shop Asgar (Asli Garut) menjamur macam cafe-cafe kopi —masih ada satu manusia yang teguh pada prinsip hidupnya: Pak Tono, tukang cukur keliling.
Perawakannya kecil, kurus, topi laken lusuh, tas lusuh, bangku lipat lusuh. Kalau ada lomba “barang paling lusuh se-Bekasi Utara”, mungkin Pak Tono juara umum. Tapi jangan salah, dari kelusuhan itu lahir kerapihan rambut warga. Ironi yang indah: alat lusuh, hasil klimis.
Setiap hari ia berjalan kaki 10 km lebih, menyusuri gang-gang Marga Mulya, Teluk Pucung, sampai Harapan Baru di Kecamatan Bekasi Utara. Kalau dihitung, jarak tempuhnya mungkin sudah bisa bikin jalur MRT (Mass Rapid Tranportation) baru. Bedanya, MRT butuh miliaran rupiah, sementara Pak Tono cukup modal sandal jepit dan niat hidup.
Baca Juga:Mengintai di Bank, Menyerang di Jalan: Komplotan Begal Nasabah DibongkarDebu Tambang Menyelimuti Sekolah, Aktivitas Belajar di Cimalaka Terganggu
Di masa keemasannya, Pak Tono ditunggu pelanggan macam saya: orang tua yang percaya bahwa bonus ganteng itu hanya bisa lahir dari tangan tukang cukur keliling, Kini, generasi muda lebih suka kursi empuk, musik, dan cermin Instagrammable di barber shop Asgar. Tapi Pak Tono tetap teguh: ia memilih silaturahmi dari rumah ke rumah, bukan mangkal di ruko dengan sistem bagi hasil ala kapitalis.
Pak Tono ini unik. Ia saksi hidup metamorfosis Bekasi dari kota kecil jadi metropolitan penyangga Jakarta. Tapi Pak Tono tetap sama: tak punya Android, tak punya boss, tak punya target KPI (Key Perform Indicators). Kalau ditanya kenapa tidak buka barber shop, jawabnya sederhana: “Saya senang begini, sekalian nyari sehat dan silaturahmi.” Lihatlah, di zaman orang sibuk cari cuan, ada manusia yang masih percaya sehat itu lebih penting daripada omzet.
Pak Tono mungkin tidak kaya. Tahun 1987 penghasilannya hanya Rp 1.000–2.500 per hari, sekarang Rp 100–150 ribu. Hasil itu digunakan untuk keperluan dirinya di perantauan dan sebagian ditabung untuk dikirim ke keluarganya di Cilacap, Jawa Tengah. Tidak ada lonjakan yang bikin Forbes tertarik bikin daftar “50 Tukang Cukur Terkaya di Asia Tenggara”. Tapi ia punya sesuatu yang lebih mahal dari saldo rekening: kedaulatan. Ia bekerja untuk dirinya sendiri, ia tidak punya boss, tidak punya investor, tidak punya target bulanan.
