Bandingkan dengan pekerja prekariat- gig worker zaman aplikasi. Katanya fleksibel, dan bebas! Padahal hidupnya ditentukan oleh rating bintang lima dan algoritma yang lebih kejam daripada mandor perkebunan zaman kolonial. Kalau dulu mandor cuma teriak “cepat kerja!”, sekarang aplikasi bisa bilang: “Anda tidak aktif 5 menit, akun Anda kami bekukan.” Merdeka macam apa itu?
Pak Tono ini bukan sekadar tukang cukur. Ia adalah Marhaen kiwari. Pak Tono mungkin tidak punya saldo miliaran, tapi ia punya sesuatu yang lebih mahal dari semua itu: martabat. Ia tidak jadi budak sistem, tidak jadi jongos algoritma, tidak jadi korban kapitalisme gaya baru. Ia tetap tukang cukur keliling, tetap manusia merdeka.
Ia tidak punya tuan, tidak punya boss, tidak punya investor. Ia bekerja untuk dirinya sendiri, dengan alat sederhana, dengan prinsip sederhana. Ia tidak tunduk pada algoritma aplikasi macam ojol atau kurir makanan. Tidak ada rating bintang lima, tidak ada notifikasi order, tidak ada promo “potong rambut Rp 15.000 dengan kode BEKASIHEMAT”.
Baca Juga:Mengintai di Bank, Menyerang di Jalan: Komplotan Begal Nasabah DibongkarDebu Tambang Menyelimuti Sekolah, Aktivitas Belajar di Cimalaka Terganggu
Kalau kapitalisme melihatnya, mungkin langsung bilang: “Wah, ini orang stagnan, tidak berkembang, tidak naik kelas.” Ya, memang. Dari dulu sampai sekarang, kekayaannya tidak berubah. Tapi coba lihat dari kacamata Marhaenisme: profesinya sebagai tukang cukur keliling justru punya dimensi etis.
Kenapa? Karena Pak Tono tidak kehilangan relasi sosialnya. Ia tidak terpasung oleh kedaulatan kerja yang palsu ala pekerja gig masa kini. Ia bebas, merdeka, berdaulat—meski penghasilannya terbatas. Dalam keterbatasan itu, ia tetap punya kuasa atas diri dan pekerjaannya.
Kalau Bung Karno masih hidup, mungkin beliau akan berkata: “Inilah contoh rakyat kecil yang tidak kehilangan martabatnya.” Dan saya pun berguman: “Dan rambut saya pun tetap rapi, walau isi dompet Pak Tono tidak pernah rapi.”
Bekasi boleh tumbuh jadi kota metropolitan, tapi di gang-gang kecil masih ada Pak Tono yang mengingatkan kita: merdeka itu bukan soal punya gedung tinggi, melainkan soal punya kuasa atas diri sendiri. Manusia yang berdaulat atas dirinya sendiri — juga pikirannya, adalah manusia merdeka! Sayangnya kedaulatan bangsa digerogoti oleh korupsi dan oligarkhi-otoritarian yang semakin akut ! (Kang Marbawi, 260726)
