“Mitra aplikasi zaman now ini, kalau dipikir-pikir, adalah titisan langsung dari si Marhaen yang dulu ditemui Bung Karno di Bandung tahun 1926.
Bedanya, kalau Marhaen dulu sibuk mencangkul tanah yang tanahnya sendiri, mitra aplikasi sekarang sibuk mencangkul aspal dengan motor yang cicilannya masih nunggak tiga bulan.
Marhaen itu, kata Bung Karno, adalah petani kecil yang punya tanah, punya cangkul, dan punya kemauan. Dia berdikari berdiri di atas kaki sendiri. Kedengarannya memang gagah, seperti pahlawan di buku sejarah. Tapi mari kita jujur: ‘Berdikari’ versi mitra aplikasi ini sebetulnya adalah eufemisme untuk ‘dilepas sendirian’.
Baca Juga:Pendaftar Melonjak di SMAN 2 Cimalaka Kuota terbatasDorong Akurasi Bansos Lewat Aplikasi Perlinsos
Mitra artinya kita harus beli motor sendiri, ganti ban sendiri, bensin tanggung sendiri, sampai kalau kena tilang atau kecelakaan, ya ditanggung sendiri.
Kalau kena tipu orderan fiktif, ya telan sendiri. Kalau kehujanan sampai masuk angin, juga jadi tanggung jawab sendiri. Perusahaan cuma menyediakan aplikasi sebuah perantara yang memotong komisi dengan presisi setajam silet.
Dia dibilang punya alat sendiri entah motor, entah smartphone seperti Marhaen yang punya cangkul. Tapi, lihatlah siapa yang sebenarnya mengatur ritme napas ekonominya. Si Marhaen baru ini memang ‘punya alat’, tapi dia adalah budak dari algoritma yang tidak punya wajah dan tidak bisa diajak bicara. Dia tertindas oleh sistem ekonomi yang tidak adil, yang dibungkus rapi dengan istilah ‘ekonomi berbagi’ atau ‘kemitraan’.
Lucu memang. Dulu Marhaen tertindas oleh kolonial yang pakai seragam dan bawa senapan.
Sekarang, Marhaen modern tertindas oleh sistem yang pakai dasi, duduk di ruang ber-AC, dan cuma perlu klik tombol update di server untuk menentukan apakah hari ini si mitra bisa makan enak atau harus puasa gara-gara kena suspend.
Jadi, kalau Bung Karno hidup lagi dan melihat mereka, mungkin beliau akan tersenyum kecut.
Ternyata, kemerdekaan itu memang tidak cukup hanya dengan mengusir penjajah, tapi juga harus melawan mereka yang hobi memeras keringat rakyat kecil dengan dalih ‘kemitraan’ yang lebih mirip perbudakan dengan tambahan bonus kuota internet. Melawan untuk mendapatkan keadilan ekonomi yang setara.
