Gig Economy

Gig Economy
Nadanya mirip emak-emak yang menyiram air ke wajah anaknya yang masih molor jam sepuluh pagi, tapi kali ini sasarannya adalah Gen Z. Ia menohok anak muda agar bangun dari mimpi indah generasi rebahan.
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES – Tagihan itu nyata!” begitulah seru Sherly, Gubernur Maluku Utara, lewat media sosialnya. Nadanya mirip emak-emak yang menyiram air ke wajah anaknya yang masih molor jam sepuluh pagi, tapi kali ini sasarannya adalah Gen Z. Ia menohok anak muda agar bangun dari mimpi indah generasi rebahan.

Ajakan itu memang benar, meski terdengar seperti alarm jam weker yang minta dibanting. Masalahnya, kita ini sudah terlanjur menggadaikan kedaulatan hidup pada algoritma Artificial Intelligence (AI). Kita menyerahkan kunci rumah tangga kita kepada mesin cerdas yang, jujur saja, kadang lebih paham selera kita daripada istri/suami sendiri.

Dari bangun tidur sampai kembali mendengkur, kita tak bisa lepas dari gadget. Hidup yang katanya nyata ini, sebenarnya cuma remah-remah dari aktivitas yang kita jalani di dunia maya.

Baca Juga:Pendaftar Melonjak di SMAN 2 Cimalaka Kuota terbatasDorong Akurasi Bansos Lewat Aplikasi Perlinsos

Kita ini, kalau mau jujur, hanyalah tambang emas bagi kapitalisme platform yang bercorak predator. Korporasi digital itu seperti tuan tanah modern yang menyediakan segalanya lewat aplikasi.

Mau makan? Tinggal klik, datang abang ojek online. Mau beli barang? Klik lagi, sampai ke depan pintu. Tapi ingat, di dunia algoritma, tidak ada makan siang gratis, apalagi negosiasi harga. Segalanya harus dibayar dengan dua mata uang: uang beneran dan data pribadi kita.

Setiap kali kita menekan tombol “SETUJU” pada syarat dan ketentuan aplikasi yang jujur saja, tak ada satu pun manusia waras yang membacanya sampai tuntas kita sebenarnya sedang menjual sepotong jiwa kita. Jargon “efisien, mudah, murah, dan bebas” adalah candu yang lebih manis daripada janji kampanye calon legislatif.

Kita merasa jadi bos bagi diri sendiri, padahal kita cuma pion yang kapan saja bisa “diputus mitra” oleh mesin jika dianggap tak lagi produktif. Inilah wajah rupawan kapitalisme baru yang dipoles rapi bernama Gig Economy.

Gig economy itu sistem kerja yang katanya bikin kita bebas merdeka. Beda dengan zaman bapak kita dulu yang terikat kontrak panjang, masuk pagi pulang sore, dan digaji bulanan dengan jaminan kesehatan yang jelas. Sekarang, kita jadi “mitra”.

0 Komentar