Emas, Perut, dan Matematika Ajaib

Emas, Perut, dan Matematika Ajaib
Manusia adalah binatang,” kata Sasha salah satu tokoh dalam novel “Pecundang” karangan Maxim Gorky alias Aleksey Maximovich
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES– “Manusia adalah binatang,” kata Sasha salah satu tokoh dalam novel “Pecundang” karangan Maxim Gorky alias Aleksey Maximovich.

Dan setiap binatang, konon, butuh padang rumput yang hijau royo-royo. Tapi rupanya, bagi para serakah di negeri ini, padang rumput saja tidak cukup. Ia butuh lapangan emas.

Bukan sembarang emas, tapi emas batangan yang beratnya mencapai 74 kilogram. Kalau dijadikan kalung, mungkin lehernya sudah berubah jadi tumpuan beban konstruksi jembatan layang.

Baca Juga:Dokumen Wakaf Hilang? Menteri ATR/Kepala BPN Jelaskan Cara agar Tanah Tetap Bisa DisertipikatkanDispusipda Jabar Genjot Peningkatan Kemampuan Literasi Masyarakat

Soal rakus bin serakah, ini adalah bakat seni tingkat dewa dalam urusan menghabiskan, membabat, menimbun, menyembunyiakan serta mengeruk hingga tak sisa.

Kalau Gorky menulis Pecundang tahun 1907 dengan latar Rusia yang dingin, mungkin ia perlu menengok negeri Konoha kita hari ini.

Di sana, alih-alih menemukan naskah sastra yang menggugah jiwa, kita justru disuguhi “naskah” yang lebih tebal: tumpukan uang miliaran rupiah dan emas 74 kilogram. Itu bukan lagi sekadar hidangan lezat; itu sudah seperti gudang logistik untuk bertahan hidup sampai kiamat tiba.

Perut mereka, saudara-saudara, bukanlah organ tubuh biasa.

Ia adalah lubang hitam (black hole) yang sanggup menelan gunung, hutan, laut, hingga anggaran proyek infrastruktur yang harusnya jadi jalan bagi rakyat jelata.

Semuanya disimpan rapi. Ada yang berbentuk emas, saham, deposito, sampai yang gaib-gaib pun mungkin ada di sana—barangkali juga terselip surat tanah di bulan kalau bisa.

Mereka punya matematika sendiri. Matematika yang tidak diajarkan di sekolah dasar, bahkan mungkin membuat Pythagoras pening tujuh keliling.

Kalau kita diajarkan 1 + 1 = 2, matematika pejabat rakus adalah: 1 jabatan + 1 kesempatan = lebih dari 1 miliar. Teorinya sederhana: jilat atasan, peras bawahan, akali aturan, dan kalau ketahuan, cukup selesaikan secara “adat”.

Baca Juga:Tingkatkan Kesehatan Warga, Pemdes Rancamulya Bangun PosyanduSumedang Utara Akan Terapkan Aplikasi Simutarlih Pada Pilkades 2026

Adat yang dimaksud tentu bukan adat istiadat leluhur yang agung, melainkan adat “salam tempel” dan “bagi hasil”.

Manusia yang sudah menerapkan teori keserakahan ini, membangun eksistensinya sendiri. Tak mau terlihat dan harus luput dari perhatian orang banyak.

Berbohong-manipulasi kepada semua orang dan semua orang pun berbohong-memanipulasi! Diantara mereka berlaku hukum; siapa yang mendapatkan apa yang lebih baik serta antara siapa.

0 Komentar