Lembah Tengkorak : Nama yang Mencekam, Alam nan Menenangkan

Lembah Tengkorak : Nama yang Mencekam, Alam nan Menenangkan
KEHENINGAN: Airnya nyaris tak bergerak. Tapi memantulkan rimba. Seperti: cermin yang menyimpan rahasia. Di Lembah Tengkorak, kesunyian bukan sekadar ketiadaan suara, melainkan bahasa alam yang mengajak setiap langkah berjalan lebih pelan dan setiap mata memandang lebih dalam.(@mhdfachri_21)
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES- Tak semua tempat yang bernama seram menyimpan ketakutan. Di balik rimbun hutan Tanjungsari, air hijau yang nyaris tak beriak memeluk batang-batang pohon yang mati dalam diam, Rabu (15/7).

Orang-orang menamainya Lembah Tengkorak. Alam, agaknya, lebih memilih menyebutnya keheningan.

TAK ada papan penunjuk yang mencolok. Tak ada deretan kios, apalagi suara pengeras musik yang lazim menyambut sebuah tempat wisata. Hanya jalan setapak yang terus menanjak, menembus kebun pinus, lalu menghilang di balik rimbun hutan.

Semakin jauh melangkah, suara manusia perlahan luruh. Yang tersisa hanya napas sendiri dan desir dedaunan yang digoyang angin pegunungan.

Baca Juga:Perkawinan Anak Masih Mengancam Ketahanan Keluarga di Nilai Menjadi Benteng UtamaKementerian ATR/BPN Bersama Komisi II DPR RI Bahas Penguatan Reforma Agraria dan Optimalisasi Peran Bank Tanah

Empat jam berjalan kaki bukan sekadar perjalanan menuju sebuah danau. Ia adalah cara alam menguji kesungguhan setiap tamunya.

Lalu, hutan mendadak membuka tirainya.

Di dasar lembah itu terbentang genangan air berwarna hijau tua. Diam. Nyaris tak beriak. Batang-batang pohon yang telah mati berdiri tegak di tengah danau seperti tiang-tiang tua yang menolak rebah.

Pantulan pepohonan memenuhi permukaan air hingga batas antara langit dan bumi seakan menghilang. Tak ada yang bergerak selain kabut yang sesekali turun, menyentuh air, lalu lenyap begitu saja.

Orang-orang menamainya Lembah Tengkorak.

Nama itu lebih dulu menakutkan daripada tempatnya sendiri. Beredar cerita tentang tengkorak yang pernah ditemukan di kawasan itu. Ada pula yang mengaitkannya dengan jalur ekstrem yang pernah merenggut nyawa para pendaki. Tak ada yang benar-benar bisa memastikan asal-usulnya. Seperti banyak kisah yang lahir dari pegunungan, mitos tumbuh lebih cepat daripada fakta.

Namun alam tampaknya tak peduli pada nama yang diberikan manusia.

Ia tetap bekerja dalam diam.

Danau kecil itu terbentuk bukan karena rencana siapa pun. Longsoran Gunung Pangparang membendung aliran sungai beberapa tahun silam. Air terus naik, menenggelamkan sebagian hutan, tetapi membiarkan batang-batang pohon tetap berdiri. Alam kehilangan sesuatu, lalu melahirkan sesuatu yang lain. Begitulah ia menyelesaikan luka.

Di sana, waktu berjalan lebih lambat. Burung-burung bersahutan tanpa tergesa. Embun jatuh satu per satu dari ujung daun. Seekor capung melintas rendah di atas permukaan air yang tenang. Tak ada suara mesin. Tak ada sinyal telepon. Peradaban seolah berhenti beberapa kilometer sebelum lembah ini.

0 Komentar