Prekariat Kelas Gabang Tubang

Prekariat Kelas Gabang Tubang
Pagi itu, saya bertemu dengan kawan lama. Dia kawan sekolah zaman ingusan, zaman di mana pikiran kita masih bersih dari dosa-dosa kalkulasi ekonomi. 
0 Komentar

Melihat kawan saya dan kawa-kawannya ini, mereka pantas masuk dalam liga kelompok prekariatnya Guy Standing dalam bukunya The Precariat; The New Dangerous Clas (2011). Dalam bukunya, dia merumuskan masyarakat yang hidup dalam ketidakamanan eksistensial yang permanen.

Mereka tidak punya masa depan, sebab masa depan bagi mereka adalah barang mewah yang harganya tak terjangkau. Menabung? Itu konsep sosiologi yang hanya ada di buku teks sekolah, bukan di dompet mereka. Pendapatan harian mereka? Habis seratus persen untuk makan.

Besok? Urusan nanti. Jika sakit datang, maka dunia kiamat.

Pusaran kehidupan ekonomi mereka masuk dalam katagori sintasan; hidup dalam siklus “hari ke hari”, tak ada jaminan sosial apalagi asuransi, buruh informal yang tak terikat secara administratif.

Menurut Standing, kelas ini memang “berbahaya”.

Baca Juga:Rashdul Qiblat Fenomena Alam Sebagai Wujud Kasih Sayang IlahiKades Sukajaya Terpilih Ikuti Program KDMK Tahun 2026

Bukan karena mereka membawa bom, tapi karena mereka hidup dalam ketidakpastian yang bisa meledak kapan saja. Mereka tak punya identitas kerja, tak ada jaminan sosial.

Masuk kelompok ini bukan cuma kawan saya yang jualan cilok, tapi juga para gig worker anak muda yang bangga kerja di perusahaan digital tapi nasibnya lebih rapuh daripada kerupuk yang terjemur hujan. Tanpa tunjangan, tanpa perlindungan, hanya bermodalkan jempol dan aplikasi.

Guru Honorer di senatero bumi Pertiwi pun masuk di dalam Gig Worker.

Ah, pilu sekali. Konon, jumlah masyarakat macam teman saya ini mencapai 150 juta jiwa. Data BPS tahun 2026 mencatat pekerja sektor informal kita masih mendominasi di angka 58-60 persen.

Mereka adalah massa yang tak jelas kehidupan ekonominya, dibuat sibuk dengan urusan bertahan hidup agar tidak sempat bertanya, “Kenapa negeri ini makin kaya, tapi saya makin miskin?”

Mereka ini sama dengan “Kaum Prol” dalam novel 1984-nya George Orwell.

Massa yang dibuat bodoh, dicekoki propaganda, ketakutan, lalu dibiarkan sibuk dengan hiruk-pikuk harian. Seperti kata Winston, tokoh Orwell itu: “Sebelum mereka sadar, mereka tak akan pernah memberontak, dan sebelum mereka melakukan pemberontakan, mereka tak akan sadar.”

Baca Juga:MPLS SMAN 2 Cimalaka Tanamkan Karakter PancawaluyaPolsek Cimalaka Edukasi Siswa Taati Aturan Berkendara

Kita semua sedang menunggu, apakah Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang digadang-gadang itu benar-benar bisa jadi pahlawan, atau sekadar proyek papan nama yang akan jadi prasasti bisu bagi kelas Gabang-Tubang.

0 Komentar