SUMEDANGEKSPRES – Pagi itu, saya bertemu dengan kawan lama. Dia kawan sekolah zaman ingusan, zaman di mana pikiran kita masih bersih dari dosa-dosa kalkulasi ekonomi.
Setelah basa basi ala kadarnya yang sebenarnya lebih banyak “basanya” daripada “basinya”—saya iseng bertanya, “Gimana dagangannya?”
Mukanya datar, sedatar jalanan aspal yang berlubang, seperti lubang-lubang kehidupannya.
Dia mengaku sudah lama gantung jaket, bukan karena pensiun dini, tapi karena jualannya selalu nombok.
Baca Juga:Rashdul Qiblat Fenomena Alam Sebagai Wujud Kasih Sayang IlahiKades Sukajaya Terpilih Ikuti Program KDMK Tahun 2026
Kawan saya ini, Anda tahu, adalah spesialis pedagang keliling. Kadang cilok, kadang mainan yang mulai tak dilirik anak-anak SD, karena lebih asik main game, kadang barang lain asal bisa diputar buat makan.
Sekolah dasar adalah medan tempurnya. Tapi di medan itu pula dia kalah perang. Modal habis, sementara perut anak-istri tak kenal istilah “krisis moneter”.
Anak gadisnya butuh obat rutin, anaknya yang lain sekolah, belum lagi cucu dan ibunya yang ikut numpang hidup. Beban hidupnya, kalau ditimbang, mungkin lebih berat daripada dosa para koruptor yang masih bisa senyum di depan kamera televisi.
Dia bercerita, dan ceritanya sungguh membuat saya ingin memaki keadaan. Teman-teman seperjuangannya sesama penjual keliling kini lebih sering berurusan dengan “Bank Keliling” dan “Pinjol”pinjaman online. Kalau dilihat dari bunganya, sepertinya bunga Pinjol dan Bank Keliling, sedang mencoba menyamai kecepatan cahaya.
Mereka ini adalah kelas “Gabang-Tubang”: Gali Lobang Tutup Lobang. Begitu terus, tanpa titik, tanpa koma.
Mirip siklus napas orang yang sedang lari marathon di atas treadmill yang tak pernah berhenti. Mereka hidup dari hari ke hari, di bawah ancaman rentenir yang mencekik lebih erat daripada pelukan kasih sayang kekasih yang baru jadian.
Teman saya itu hanya punya satu doa sederhana: semoga anaknya bisa masuk KIP (Kartu Indonesia Pintar) dan KIS (Kartu Indonesia Sehat).
Baca Juga:MPLS SMAN 2 Cimalaka Tanamkan Karakter PancawaluyaPolsek Cimalaka Edukasi Siswa Taati Aturan Berkendara
Permohonan yang diajukan tiga tahun lalu itu baru diijabah tahun ini. Bayangkan, butuh tiga tahun hanya untuk mendapatkan hak dasar. Betapa birokrasi kita kadang memang seperti siput yang sedang sakit encok.
