Tidak cukup hanya menjaga tradisi.
Juga harus berani berbicara dengan bahasa zaman.
Mngkin, karena itu, ketika Pemuda PERSIS menempatkan kader pada bidang ekonomi, pendidikan, hukum, komunikasi, dan dakwah, sesungguhnya organisasi sedang mengakui satu kenyataan: perjuangan hari ini tidak lagi berlangsung hanya di masjid atau ruang kelas. Ia hadir di ruang digital, pasar, kampus, ruang kebijakan, hingga percakapan sehari-hari.
Bagi Sumedang, enam nama itu tentu menjadi kebanggaan.
Namun kebanggaan selalu memiliki saudara kembar: tanggung jawab.
Mereka kini tidak lagi membawa nama pribadi. Mereka membawa nama daerah, organisasi, dan generasi yang berharap dapat melihat wajah Islam yang ramah terhadap ilmu pengetahuan, akrab dengan teknologi, tetapi tetap teguh memegang prinsip.
Surat keputusan memang telah selesai dibacakan.
Foto-foto pelantikan akan segera tersimpan di galeri telepon genggam.
Ucapan selamat perlahan akan tenggelam di linimasa media sosial.
Tetapi sejarah organisasi tidak pernah ditulis oleh tepuk tangan.
Ia ditulis oleh kerja yang berlangsung setelah aula kembali sepi.
Di sanalah, sesungguhnya, amanah baru itu mulai diuji.
Selamat berjuang!
