Tidak ada karpet merah. Hanya deretan kursi, selembar surat keputusan, dan nama-nama yang dipanggil bergantian. Namun bagi Pemuda PERSIS Sumedang (saya), pelantikan di Bandung itu menandai sesuatu yang lebih besar: kader-kader daerah kini mendapat ruang menentukan arah organisasi di tingkat nasional.
ERWIN MINTARA D. YASA, Sumedang Ekspres
NAMA demi nama dibacakan. Selembar surat keputusan berpindah tangan. Senyum mengembang. Kamera berkilat. Bagi sebagian orang, itulah akhir sebuah prosesi.
Padahal, justru di sanalah sebuah perjalanan dimulai.
Enam kader Pemuda Persatuan Islam asal Sumedang dipercaya mengisi Tasykil Pimpinan Pusat Pemuda PERSIS Masa Jihad 2026–2031. Ada yang mengelola keuangan organisasi sebagai Bendahara Umum. Ada yang bertugas mengurus ekonomi, pendidikan, dakwah, hingga hukum dan analisis kebijakan publik.
Jabatan memang mudah disebut.
Tetapi jalan menuju amanah itu tidak pernah sesederhana daftar nama.
Di organisasi kader, seseorang tidak lahir sebagai pemimpin.
Ia dibentuk.
Baca Juga:Debu Tambang di Desa Licin Dikeluhkan, Camat Cimalaka Siapkan Pertemuan dengan PengusahaMasuk Masjid, Salat, Lalu Mencuri Kotak Amal
Prosesnya berlangsung diam-diam. Jauh dari sorotan kamera. Dimulai dari duduk paling belakang ketika mengikuti pengajian. Menjadi panitia yang pulang paling akhir. Menyusun proposal yang berkali-kali direvisi. Mengangkat kursi sebelum acara dimulai dan membereskannya ketika semua orang sudah pulang.
Tidak ada tepuk tangan untuk pekerjaan-pekerjaan seperti itu.
Tetapi justru dari sanalah organisasi mengenali siapa yang sanggup memikul beban lebih besar.
Kaderisasi bukan sekadar memindahkan jabatan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Ia adalah latihan panjang tentang kesabaran, disiplin, dan kesediaan bekerja tanpa selalu diketahui orang lain.
Mungkin itulah yang membuat pelantikan selalu tampak sederhana.
Yang terlihat hanya beberapa menit pembacaan surat keputusan.
Yang tak terlihat adalah bertahun-tahun proses yang mendahuluinya.
Zaman yang akan dihadapi kepengurusan baru bukan zaman yang mudah.
Pemuda kini lebih sering belajar dari layar telepon daripada dari mimbar. Percakapan agama berlangsung di media sosial, dipotong video berdurasi satu menit, lalu menghilang ditelan algoritma.
Di ruang seperti itulah organisasi diuji:
Tidak cukup hanya benar.
Juga harus mampu didengar.
Tidak cukup hanya memiliki kader.
Juga harus mampu melahirkan gagasan.
