MUSIM kemarau menghadirkan persoalan yang lebih rumit daripada sekadar udara kering di Desa Licin, Kecamatan Cimalaka. Bersama angin, debu dari aktivitas penambangan batu dan pasir setiap hari menyusup ke ruang-ruang belajar, menempel di meja kelas, menutupi lapangan upacara, hingga menyelimuti atap sekolah dan kampus.
Bagi SMAN 2 Cimalaka, membersihkan debu telah menjadi rutinitas sebelum bel masuk berbunyi. Namun, pekerjaan itu hanya mengatasi akibat, bukan sumber persoalan.
Kepala SMAN 2 Cimalaka, Sopian Trenggana, mengatakan kondisi tersebut belum menunjukkan perubahan berarti meski pihak sekolah bersama sejumlah sekolah lain dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang telah menyampaikan surat keberatan kepada pemerintah desa.
Baca Juga:Masuk Masjid, Salat, Lalu Mencuri Kotak AmalPak Tono, Sang Marhaen Kiwari
“Polusi dari galian batu dan pasir sampai sekarang masih mengganggu aktivitas sekolah. Debu masuk ke ruang kelas, aula, menutupi lapangan olahraga dan upacara, bahkan atap-atap bangunan,” katanya.
Keluhan serupa datang dari UPI Kampus Sumedang. Kampus yang setiap pekan menjadi tempat beraktivitas lebih dari 3.000 mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan itu mulai merasakan dampak pencemaran debu terhadap lingkungan akademik.
Wakil Direktur II UPI Kampus Sumedang, Dr. Maulana, menyebut kepulan debu yang terus beterbangan bukan lagi sekadar mengganggu kenyamanan, tetapi mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan sivitas akademika.
“Dengan kepadatan civitas akademika yang begitu tinggi, pencemaran debu akibat aktivitas galian pasir tentu sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.
Di tengah keluhan yang belum menemukan jawaban, Pemerintah Kecamatan Cimalaka akhirnya mengambil inisiatif membuka ruang dialog.
Camat Cimalaka Eneng Yulia mengatakan pihaknya akan melakukan pengecekan lapangan sekaligus berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Licin dan para pengusaha tambang.
Menurut Eneng, selama ini pengusaha telah melakukan penyiraman di ruas jalan kabupaten maupun akses menuju lokasi galian. Namun intensitasnya dinilai belum memadai karena cuaca yang sangat kering membuat debu cepat kembali beterbangan.
Baca Juga:Mengintai di Bank, Menyerang di Jalan: Komplotan Begal Nasabah DibongkarDebu Tambang Menyelimuti Sekolah, Aktivitas Belajar di Cimalaka Terganggu
“Penyiraman memang sudah dilakukan, tetapi karena cuaca sangat panas, frekuensinya harus lebih sering,” katanya.
Dalam waktu dekat, kecamatan akan menggelar rapat bersama pemerintah desa dan para pelaku usaha tambang. Pertemuan itu akan dibarengi penyampaian surat imbauan agar langkah pengendalian debu dilakukan lebih serius.
