SUMEDANGEKSPRES — Suara penolakan terhadap LGBT kembali bergema di Jatinangor.
Aliansi Pemuda Muslim Peduli Generasi (APMPG) menggelar aksi damai di kawasan Pangdam, Pangkalan Damri Jatinangor, Sabtu (15/8) pagi.
Aksi yang berlangsung pukul 08.00 hingga 10.30 WIB itu tidak sekadar menghadirkan massa dan poster.
Para pemuda membawa satu pesan tegas: generasi muda harus dilindungi dari segala bentuk normalisasi perilaku, yang mereka nilai bertentangan dengan nilai agama dan moral.
Baca Juga:Ada Pencuri Kabel PJU Cadas Pangeran Segera Lapor ke 110 atau 112Hadir Sebagai Pusat Kegiatan Agama, Yayasan BMS Ajak Masyarakat Tholabul Ilmi
Ketua Pelaksana aksi sekaligus Ketua KATRO (Kajian Trotoar Chapter Sumedang), Imam Galing, membacakan pernyataan sikap APMPG.
“Dalam perspektif syariat Islam, perilaku LGBT merupakan perbuatan haram dan bertentangan dengan nilai akhlak, ketahanan keluarga, serta nilai-nilai kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Aksi ini, kata dia, tidak akan berhenti pada penolakan, APMPG justru mendorong pendekatan yang lebih luas, dengan cara memperkuat iman, literasi keagamaan, ketahanan keluarga dan pendidikan generasi muda.
“Bahkan kami juga menyerukan agar ruang publik, lingkungan pendidikan, keluarga hingga kegiatan hiburan tidak menjadi ruang untuk melakukan apresiasi atau normalisasi terhadap LGBT,” ungkapnya.
Kami, sambung Imam, bukan hanya sekadar melarang, tetapi mendidik. Bukan sekadar mengecam, tetapi membentengi.
“Itulah garis besar pesan yang kami bawa dalam aksi ini,” tuturnya.
APMPG, kata Imam, mengajak mahasiswa, pelajar, orang tua, pendidik, tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat, ikut mengambil peran dalam menciptakan lingkungan yang dianggap sehat dan sesuai nilai-nilai Islam bagi tumbuh kembang anak dan remaja.
Baca Juga:Kirab Alit dan Jamasan Pusaka Keraton Sumedang Larang, Tradisi yang Mengikat Sejarah dan KetakwaanPerkuat Inklusi Keuangan Bersama Danantara, BRImo Capai 49,7 Juta Pengguna, Volume Transaksi Rp4.166 Triliun
“Pemuda tidak boleh apatis. Pemuda harus peduli. Pemuda harus bersuara. Pemuda harus mengedukasi. Pemuda harus menjadi bagian dari solusi,” katanya.
Aksi berlangsung tertib dan damai. Tidak ada kericuhan. Yang ditonjolkan adalah penyampaian aspirasi dan edukasi kepada masyarakat.Bagi APMPG, persoalan generasi bukan perkara kecil.
Ketika keluarga melemah, pendidikan kehilangan arah dan ruang digital semakin terbuka, mereka menilai anak-anak dan remaja membutuhkan pendampingan yang lebih serius.
Karena itu, mereka meminta keluarga tidak menyerahkan pendidikan moral anak sepenuhnya kepada sekolah maupun internet.
“Orang tua harus hadir. Guru harus peduli. Tokoh agama harus membimbing dan pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton,” katanya. (red)
