Pemda Sumedang Gelar Salat Istisqa, Ikhtiar Bersama Memohon Turunnya Hujan

Pemda Sumedang Gelar Salat Istisqa, Ikhtiar Bersama Memohon Turunnya Hujan
Pemda Sumedang Gelar Salat Istisqa, Ikhtiar Bersama Memohon Turunnya Hujan
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES – Di tengah kekeringan yang mulai dirasakan sejumlah wilayah, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang menggelar Salat Istisqa sebagai ikhtiar bersama memohon pertolongan dan rahmat Allah SWT agar segera menurunkan hujan.

Salat Istisqa berlangsung khidmat di Lapang Mini Soccer Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), Selasa (8/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, jajaran Pemerintah Daerah, unsur Forkopimda, ASN, masyarakat, serta berbagai elemen lainnya.

Salat Istisqa dipimpin K.H. Atep Saepuloh, S.Pd.I sebagai imam, sedangkan khotbah disampaikan K.H.M. Kholil.

Baca Juga:KDMP Sumedang Didorong Segera Beroperasi, 20 Titik Siap DigunakanKarhutla Sumedang Melonjak 99 Persen, Bupati Perkuat Pencegahan dan Patroli

Bupati Dony Ahmad Munir mengatakan, Salat Istisqa merupakan ibadah yang dianjurkan ketika umat Islam menghadapi kekeringan atau kemarau panjang. Pelaksanaannya menjadi ikhtiar spiritual pemerintah bersama masyarakat untuk memohon turunnya hujan.

“Ini ikhtiar kita bersama. Dengan penuh kerendahan hati dan menyadari berbagai dosa serta kekhilafan, kita memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan,” ujar Dony.Menurutnya, kekeringan mulai berdampak pada kehidupan masyarakat, mulai dari berkurangnya ketersediaan air hingga terganggunya sektor pertanian dan peternakan.

“Saat ini kekeringan mulai kita rasakan. Air berkurang, sawah mengalami kekeringan, dan ternak juga terdampak. Karena itu, selain melakukan berbagai upaya nyata, kita juga perlu memperbanyak zikir, doa, dan mendekatkan diri kepada Allah,” katanya.

Dony mengajak masyarakat menjadikan kondisi kekeringan sebagai momentum untuk bermuhasabah, memperbanyak istigfar, memohon ampunan, serta memperbaiki hubungan dengan sesama.

“Hujan dan air adalah rahmat Allah. Kekeringan ini hendaknya tidak hanya kita lihat sebagai fenomena alam, tetapi juga menjadi momentum untuk introspeksi, memperbanyak istigfar, saling memaafkan, meninggalkan kesombongan, dan memperkuat kerendahan hati,” tuturnya.

Ia menegaskan, menghadapi kondisi kekeringan diperlukan keseimbangan antara ikhtiar spiritual dan langkah nyata.

“Ketika menghadapi sebuah peristiwa, kita harus mengedepankan olah zikir dan olah pikir. Dengan keduanya, mudah-mudahan persoalan kekeringan ini dapat kita hadapi bersama. Kita berdoa kepada Allah Yang Maha Mengatur agar hujan segera diturunkan,” pungkasnya. (red)

0 Komentar