Setali tiga uang macam sandal jepit kiri dan kanan. Pikiran Habermas ini dengan Vilfredo Pareto- orang Itali, kalau ini terjadi, dia akan menyebut PBNU hanya sirkulasi elit yang terus berganti namun struktur dominasi tetap sama.
Peran civil society-nya NU tergadai oleh politik akomodatif dan pragmatismenya -elit PBNU, terhadap kekuasaan-penguasa. Hingga akhirnya melemahlah kekuatan penyeimbang, warisan kritisnya Gus Dur, kalah dengan pragmatisme penerusnya. Semakin jauh saja, NU yang berdaulat, kritis sekaligus mitra strategis negara. Sejatinya NU itu pemain utama penguatan masyarakat sipil.
Jika pragmatisme elit NU terjadi, jangan salahkan jika jama’ah yang berjuta-juta hanya menjadi penonton yang sorak-sorai di pinggir lapangan. Padahal mereka membayar karcis untuk melihat pemain tunggal elit PBNU di lapangan. Jangan sampai NU bisa berubah jadi ‘Persatuan Bola Nahdlatul Ulama’: yang main elit, yang sorak sorai jamaah. Padahal NU itu salawase, bukan sacukupe.” Gus Dur dulu jadi wasit moral, sekarang wasitnya pragmatis, asal pertandingan jalan.
Baca Juga:Batik Sumedang, Sejarah yang Menjadi MotifRombongan Pesantren Tangerang Telusuri Jejak Sejarah Sumedang Larang
Pesan yang ditangkap dari narasi ini jangan terjadi fenomena sentralisasi organisasi yang berpotensi mengabaikan dinamika sosial (aspirasi, kritik dan kebutuhan) di akar rumput jamaah. Akhirnya NU kehilangan fungsi deliberatifnya sebagai civil society. Narasi ini mengingatkan bahwa NU tidak boleh berhenti pada “sacukupe PBNU”, melainkan harus menegaskan kembali peran jamaah sebagai sumber legitimasi.
Tuturan ini juga menyoroti dilema: apakah NU akan tetap kritis terhadap negara atau lebih pragmatis sebagai mitra. Dipucuk lidah Antonie Gramsci menyebutnya NU penting menjaga hegemoni moral-kultural bukan hegemoni elit. Yang terakhir ini hanya hegemoni yang sekadar legitimasi politik praktis, bukan kekuatan moral yang membela rakyat kecil.
Maka menjadi klop lagunya Vety Vera, selama elit NU di struktural jamiyyah menunjukkan pragmatismenya, khidmah jama’ah pun akan “Sa’cukupe” saja. Tapi khidmah kultural-moral ke NU di akar rumput itu “Sa’lawase”.
“Yah.. kita mah kembali ngurus jamaah saja, ngurusin kifayah jenazah saja, dan ngurusin mushola. Terserah PBNU mau ke mana,” kata Jabehero, salah satu nahdliyin dari Banjar, Kalimantan Selatan. Seloroh nyata dari “NU Salawase, PBNU Sacukupe”
