Pas betul judul lagu dangdut Vety Vera “Sedang-Sedang Saja” era 90-a dengan ungkapan “NU Salawase, PBNU Sacukupe” (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Macam kunci ketemu gembok, bunyi klek nya itu loh yang pas banget. Pesan moralnya: jangan kebanyakan micin, nanti darah tinggi. Begitu pula NU, jangan kebanyakan PBNU, nanti jamaahnya bisa hipertensi sosial. Sebab yang serba terlalu akan bikin sakit kepala, kata Vety.
Narasi “NU Salawase, PBNU Sacukupe” menjadi titik balik membaca ulang relasi jam’iyyah (organisasi) dengan jama’ah nya. Narasi ini datang dari pengajian jamaah musolah kampung. Ia muncul bagai sandal jepit hilang yang tiba-tiba nongol di selasar mushola, bikin heran tapi tetap dipakai. Slogan ini hadir tak lepas dari dinamika pasca penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, akhir Agustus 2026 lalu.
Tak ada yang mendeklarasikan secara formal sebagai manifesto resmi macam pernyataan kritis para pendemo mengutuk bencana ekologi dan kebakaran hutan yang tak kunjung tertangani dengan baik. Narasi ini lahir secara organik sebagai bentuk slang kultural yang menjadi ciri khas di NU. Kritik satir ini, merespon dinamika jamiyyah yang dianggap tak independen dan selalu terdistorsi kepentingan elit (internal-eksternal). Sifatnya adalah produk kolektif dari kesadaran kritis kultural, yang disuarakan nahdliyin.
Baca Juga:Batik Sumedang, Sejarah yang Menjadi MotifRombongan Pesantren Tangerang Telusuri Jejak Sejarah Sumedang Larang
Pesan dari tuturan ini, menandakan ada jarak antara nahdliyin dan elit PBNU. Antara NU sebagai civil society yang berakar pada pesantren, jamaah dan tradisi lokal dengan sentralisasi kekuasaan pada PBNU. NU yang plural-kultural seolah-olah direduksi hanya menjadi elit pusat di PBNU.
Menjambret pikirannya Habermas, nahdliyin itu ruang publik diskursif (kritis, aspiratif dan dinamis), sementara PBNU cendrung terjebak logika polirik praktis. Melahirkan jarak antara “NU sebagai jam’iyyah” dan “NU sebagai institusi elit”. “NU itu tidak bisa direkduksi menjadi PBNU”, katanya.
Pas betul omongannya sosiolog Jerman ini. Memang mahkul yang namanya sosiolog itu macam tukang parkir. Rela berpanas-panas, tak ikut belanja, tapi sibuk mencatat siapa masuk, siapa keluar, siapa rebutan lahan parkir, siapa pedagang-pembeli yang cerewet. Selain itu, mereka juga rela mengerutkan kening hanya untuk memlototi tingkang polah sosial manusia.
