Menguak Jejak Kuliner Unik: Unthuk Cacing Berasal Dari Mana?

Menguak Jejak Kuliner Unik: Unthuk Cacing Berasal Dari Mana?
Menguak Jejak Kuliner Unik: Unthuk Cacing Berasal Dari Mana? - (Ilustrasi)
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES, KULINER – Unthuk Cacing, camilan tradisional dengan nama yang unik dan bentuk yang khas, adalah salah satu warisan kekayaan kuliner Indonesia yang patut dilestarikan. Bagi yang belum familiar, nama ini mungkin terdengar ekstrem.

Namun, perlu diketahui bahwa “cacing” dalam konteks ini tidak merujuk pada hewan, melainkan pada bentuk gundukan tanah yang dihasilkan oleh cacing atau kepiting sawah (yuyu).

Pertanyaan mendasar, Unthuk Cacing berasal dari mana? Jawabannya mengerucut pada satu wilayah yang merupakan pusat kebudayaan Jawa, yaitu Jawa Tengah.

Pusat Asal Muasal: Jawa Tengah

Baca Juga:Tawarkan Solusi Penyelesaian Masalah Pertanahan di Sumsel, Menteri Nusron: Litis Finiri OportetMenteri Nusron Dorong Integrasi NIB dan NOP di Sumsel untuk Dongkrak Pendapatan Daerah Tanpa Pajak Baru

Secara umum, Unthuk Cacing diakui sebagai jajanan tradisional khas Jawa Tengah. Namun, camilan ini tersebar dan sangat populer di beberapa wilayah kabupaten, yang masing-masing mengklaim sebagai daerah asalnya atau memiliki tradisi kuat dalam pembuatannya.

Beberapa daerah yang paling dikenal sebagai produsen utama Unthuk Cacing (atau sering juga disebut Unthuk Yuyu atau Kue Turing) antara lain:

  • Kebumen: Wilayah Kebumen, khususnya desa-desa seperti Prembun dan Surorejan, dikenal memiliki industri rumahan Unthuk Cacing yang kuat dan legendaris.
  • Cilacap: Camilan ini juga menjadi salah satu oleh-oleh khas dari Cilacap, dengan tekstur yang renyah dan cita rasa manis gurih yang khas.
  • Purworejo: Di Purworejo, Unthuk Cacing juga mudah ditemukan dan menjadi bagian dari hidangan wajib saat perayaan hari besar.

Meskipun penyebutannya bisa berbeda di tiap daerah (seperti Unthuk Yuyu di beberapa bagian Jawa Timur seperti Blitar dan Kediri), inti dari camilan ini—bentuknya yang keriting seperti galian tanah dan bahan dasarnya yang terbuat dari tepung ketan—tetap sama. Hal ini menandakan bahwa kuliner ini adalah karya kolektif masyarakat pedesaan Jawa yang diwariskan secara turun temurun.

Filosofi Bentuk dan Bahan

Popularitas Unthuk Cacing di Jawa Tengah tidak lepas dari filosofi yang melekat padanya:

  • Bentuk: Kue ini dicetak menggunakan alat tradisional (dahulu batok kelapa berlubang) sehingga menghasilkan bentuk gumpalan-gumpalan ikal yang menyerupai unthuk (gundukan) hasil kerja cacing tanah. Ini melambangkan kedekatan masyarakat Jawa dengan alam dan kesederhanaan hidup.
  • Bahan: Penggunaan tepung ketan, gula, dan santan mencerminkan kemandirian desa dalam memanfaatkan hasil bumi. Kue ini biasanya disajikan sebagai teman minum teh atau kopi, serta menjadi sajian wajib dalam acara-acara sakral dan hajatan sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.
0 Komentar