Kredit UMKM di Jabar Lesu, Jumlah Rekening Anjlok

Kredit UMKM di Jabar Lesu, Jumlah Rekening Anjlok
Kepala OJK Jabar Darwisman saat menjabarkan kondisi perbankan di Gedung Sate, Rabu (10/12).(Dok. Jabar Ekspres)
0 Komentar

KOTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar bakal pacu pertumbuhan ekonomi terutama sektor perbankan. Karena pertumbuhan kredit di Jawa Barat masih rendah.

Rendahnya pertumbuhan kredit itu berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan beberapa waktu terakhir. Pada periode September 2025, OJK mencatat penyaluran kredit Bank Umum di Jabar tembus Rp 1.032 triliun. Angka itu tumbuh 3,75 persen secara y-on-y.

Namun, angka itu masih rendah dibanding nasional yang tumbuh 7,65 persen. Termasuk lebih rendah dibanding Sumatera Utara yang tumbuh 13,5 persen. Begitu juga DKI Jakarta yang tumbuh 10,78 persen.

Baca Juga:Perketat Pengawasan Proyek, Bupati Sumedang: Pekerjaan Perkimtan Harus Berkualitas!Pengamanan Natal Diperkuat: Bhabinkamtibmas Cibesi Silaturahmi ke Gereja-Gereja Jatinangor

Kepala OJK Jabar Darwisman pada Rabu (11/12) sempat menguraikan, jumlah UMKM di Jabar itu tembus 15,9 juta unit usaha. Rincianya, 10,4juta merupakan UMKM yang bergerak di bidang pertanian. Lalu sisanya bergerak di non pertanian.

Jumlah UMKM itu cukup besar tapi dari sisi penyaluran kreditnya masih memprihatinkan alias belum maksimal. Saat di Gedung Sate, Darwiaman menguraikan, jumlah rekening UMKM per Oktober 2025 menunjukkan tren penurunan secara y-on-y.

Jumlahnya teratat di angka 3.472.550 rekening. Angka itu turun 311.037 atau 8,22 persen. Jumlah dan penurunan itu menimbulkan pertanyaan terkait fasilitas pembiayaan atau kredit yang diakses para pelaku UMKM.

OJK juga mencatat kota kabupaten dengan penyaluran kredit UMKM terbesar. Pertama adalah Kota Bandung dengan 25,8 triliun disusul Kabupaten Bekasi Rp 16,7 triliun.

Sementara itu Sekda Jabar Herman Suryatman menuturkan, pihaknya berupaya menekankan kepada kota kabupaten untuk bisa memacu pertumbuhan ekonomi di sisa waktu yang ada. “Di kuartal III ini baru di angka 4,2. Harapan kami akhir tahun biza 4,5. Jika bisa maka di 2026 nanti kami optimis bisa tembus 6 persen,” katanya.

Herman juga mengakui bahwa sektor perbankan menjadi perhatian serius. Utamanya soal penyaluran kredit. Karena pertumbuhannya masih di bawah nasional.

“Memang perbankan harus dipacu. Baik aset, DPK maupun kreditnya,” tutupnya.(red)

0 Komentar