Keraton Sumedang Larang Ditegaskan sebagai Episentrum Kebudayaan Sunda di Sumedang

Museum Prabu Geusan Ulun
Menteri Luar Keraton Sumedang Larang, R. Asep Sulaiman Fadil Adiwinata saat ditemui di Museum Prabu Geusan Ulun, baru-baru ini.(Laila/Sumesk)
0 Komentar

“Penetapan Sumedang sebagai Pusat Peradaban Sunda didasarkan pada fakta sejarah. Pusaka, manuskrip, dan artefak kerajaan Sunda yang masih lengkap berada di wilayah ini. Keraton menjadi penjaga sekaligus penggerak agar nilai-nilai itu tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman,” ucapnya.

Dalam tata kelolanya, Keraton Sumedang Larang menerapkan konsep kearifan lokal Sunda Tritangtu, yakni sistem kepemimpinan kolektif-kolegial yang menekankan keseimbangan nilai, kemampuan adaptasi, dan kebijaksanaan spiritual.

Asep juga menyoroti tantangan global yang semakin kompleks. Menurutnya, di tengah modernisasi dan dominasi sistem materialistik, kearifan lokal Sunda justru menawarkan alternatif solusi melalui ketahanan budaya, ketahanan pangan, serta kemandirian nilai.

Baca Juga:Klaim Jalan Cimanggung Mulus Dipertanyakan, Warga Temukan Banyak Titik Rusak di CikahuripanPMI Sumedang Evaluasi Program 2025, Donor Darah Tembus 12 Ribu Labu

“Leluhur Sunda telah menyiapkan konsep peradaban yang berorientasi pada keberlanjutan. Hidup bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk menyiapkan generasi masa depan agar lebih kuat dan berdaulat,” tuturnya.

Ia berharap Keraton Sumedang Larang ke depan tetap menjadi pusat rujukan peradaban Sunda dan Nusantara, serta berkontribusi dalam merumuskan nilai-nilai kebangsaan yang berakar pada kearifan leluhur, namun tetap relevan dengan tantangan zaman modern. (lai)

0 Komentar