Mahkota Binokasih Sumedang Larang Nyaris Dirampas dan Terbakar di Masa Gejolak, Begini Kisah Penyelamatannya

Ketua Yayasan Nazhir Wakaf Pangeran Sumedang
Ketua Yayasan Nazhir Wakaf Pangeran Sumedang sekaligus Radya Anom Keraton Sumedang Larang, R. Luky Djohari Soemawilaga.(Laila/Sumesk)
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES, KOTA Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, simbol tertinggi kebudayaan Sunda, pernah berada di titik paling genting dalam sejarahnya. Di tengah gejolak keamanan nasional pada dekade 1960-an, pusaka Keraton Sumedang Larang itu nyaris dirampas dan sempat terdampak kobaran api saat rumah tempat penyimpanannya dibakar.

Ketua Yayasan Nazhir Wakaf Pangeran Sumedang sekaligus Radya Anom Keraton Sumedang Larang, R. Luky Djohari Soemawilaga, mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut terjadi ketika situasi keamanan nasional tidak stabil, dipicu konflik bersenjata dan gangguan keamanan di berbagai daerah.

Dalam kondisi darurat itu, Mahkota Binokasih bersama pusaka Keraton Sumedang Larang lainnya disembunyikan oleh keluarga keraton di sebuah rumah di kawasan Blok Cijeler–kini dikenal sebagai Jalan Prabu Geusan Ulun, Sumedang.

Baca Juga:Mahkota Binokasih: Autentik di Tengah Api Sejarah, Dari Ancaman Kebakaran hingga Peneguhan Puser Budaya SundaFilm Dalam Sujudku Angkat Ujian Rumah Tangga LDR, Kisah Kesetiaan, Pengkhianatan, dan Doa Seorang Istri

“Mahkota ini tidak dirampas dan tidak ditemukan pihak penyerang, tetapi sempat terkena dampak kebakaran,” ungkap Luky kepada Sumeks, Selasa (20/1/2026).

Ia menjelaskan, saat penyerangan terjadi, rumah-rumah warga dibakar oleh kelompok bersenjata. Mahkota Binokasih yang disimpan di dalam kotak dan diletakkan di bagian atas rumah ikut terdampak panas dan api.

Akibat kejadian tersebut, Mahkota Binokasih mengalami kerusakan ringan. Namun, Luky menegaskan tidak pernah ada perubahan bentuk maupun renovasi yang menghilangkan keaslian mahkota.

“Bentuk mahkota dari awal sampai sekarang tetap sama. Tidak ada perubahan mendasar. Perbaikan hanya sebatas menjaga keutuhan fisiknya,” tegasnya.

Ia juga meluruskan berbagai cerita rakyat yang mengaitkan Mahkota Binokasih dengan Kerajaan Panjalu di Ciamis. Berdasarkan kajian sejarah, mahkota tersebut memang dibuat atas perintah Prabu Bunisora, Raja Galuh, ketika Panjalu masih merupakan kerajaan vasal di bawah kekuasaan Galuh.

Namun demikian, sejak awal pembuatannya hingga kini, Mahkota Binokasih tidak pernah mengalami perubahan bentuk, meski telah melewati berbagai peristiwa besar, termasuk ancaman perampasan dan kebakaran.

Menurut Luky, keberadaan fisik Mahkota Binokasih memiliki peran krusial dalam rekonstruksi sejarah dan kebudayaan Sunda. Tanpa artefak asli, upaya memahami nilai-nilai budaya masa lalu akan kehilangan pijakan nyata.

Baca Juga:UKT Unpad Dipastikan Tidak Naik hingga 2029, Rektor Ungkap Skema Biaya dan Beasiswa Mahasiswa 2026Terbongkar Jaringan Senjata Api Ilegal di Sumedang, Polda Metro Jaya Tangkap 5 Perakit dan Penjual

“Untuk merekonstruksi nilai sejarah, harus ada wujudnya. Tanpa artefak, rekonstruksi hanya menjadi abstrak,” katanya.

0 Komentar