SUMEDANG EKSPRES, Nusa Tenggara Timur (NTT) – Kisah pilu datang dari Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Seorang yang berusia 10 tahun, siswa kelas IV SD berinisial YBR, ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya sendiri.
Diduga kuat, peristiwa tragis ini dipicu oleh rasa putus asa dan kesedihan mendalam karena YBR tidak memiliki uang untuk membeli buku dan pena sebagai perlengkapan sekolah.
Pada malam sebelum kejadian, YBR sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen. Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat memprihatinkan.
Baca Juga:Tak Mau Bayar Hutang, Suami Ini Bunuh Istrinya Sendiri di JatinangorViral! Seorang Pemuda di Temukan Tewas Bunuh Diri, Cilengkrang Bandung
Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan bahwa ibu korban harus menghidupi lima orang anak seorang diri setelah berpisah dengan ayah korban selama sekitar 10 tahun. Kondisi ekonomi keluarga tersebut tergolong sangat sulit.
Sehari-hari, YBR tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana. Sementara rumah ibu korban berada di desa tetangga. Pada malam kejadian, YBR menginap di rumah ibunya dengan harapan dibelikan perlengkapan sekolah.
Menurut keterangan Kepala Desa, berdasarkan pengakuan ibu korban, permintaan terakhir YBR sebelum meninggal dunia hanyalah ingin dibelikan buku dan pulpen untuk sekolah.
Korban ditemukan meninggal dunia dengan cara mengikatkan lehernya di pohon cengkeh setinggi sekitar 15 meter yang berada tak jauh dari rumah.
Saat kejadian, nenek korban tidak berada di pondok karena sejak malam membantu tetangga memecahkan kemiri. Nenek korban mengetahui kejadian tersebut setelah diberitahu warga sekitar.
Sebelum mengakhiri hidupnya, YBR sempat menulis surat wasiat tulisan tangan yang ditujukan kepada ibunya. Surat tersebut ditulis menggunakan bahasa daerah NTT, dengan isi antara lain:
“Mama Galo Zee” (Mama pelit sekali)“Mama molo ja’o galo mata mae rita ee mama” (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal, mama jangan menangis)“Mama ja’o galo mata mae woe rita ne’e gae ngao ee” (Mama, saya meninggal, jangan menangis dan jangan cari saya)“Molo Mama” (Selamat tinggal mama)Dalam surat tersebut, korban juga menggambar emotikon wajah menangis sebagai simbol perpisahan terakhir.
