Oleh: Dr. Fitry Fillianty, S.TP., M.Si. (Dosen Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran)
Di banyak rumah tangga, ceker ayam sering diposisikan sekadar pelengkap. Dibeli karena murah, dimasak karena gurih, lalu selesai. Padahal, bahan pangan yang kerap dianggap biasa ini menyimpan potensi yang jauh lebih besar, baik dari sisi gizi maupun peluang pengolahannya. Jika dilihat lebih jernih, ceker ayam sesungguhnya bisa menjadi contoh bagaimana pangan sederhana memberi manfaat nyata bagi keluarga.
Secara alami, ceker ayam kaya akan protein kolagen, komponen penting yang berperan dalam menjaga struktur jaringan ikat, tulang rawan, dan sendi. Kolagen inilah yang membuat kuah ceker terasa lebih kental dan memberi sensasi hangat saat dikonsumsi. Dalam konteks konsumsi keluarga, ceker ayam dapat menjadi alternatif sumber protein yang terjangkau, terutama ketika harga bahan pangan hewani lain terus meningkat dan menekan anggaran rumah tangga.
Baca Juga:Mentri Nusron Paparkan Roadmap Penetapan LSD di 2026.Bahas Implementasi Perpres 4/ 2026Dukung ATR/BPN dalam Pelaksanaan KKN Pertanahan, Gubernur DIY: Tata Kelola yang Baik Lahir dari Kolaborasi
Dalam beberapa kegiatan pengabdian masyarakat, saya menjumpai banyak ibu rumah tangga yang sebenarnya sudah terbiasa mengolah ceker ayam. Mereka tahu rasanya enak dan disukai keluarga, tetapi sering terkendala kepraktisan. Ceker harus dibersihkan dengan teliti, direbus cukup lama, dan tidak tahan disimpan. Akibatnya, pemanfaatannya masih terbatas dan bersifat sesekali.
Padahal, dengan teknologi yang sangat sederhana, ceker ayam dapat diolah menjadi produk setengah jadi berupa tepung. Prosesnya relatif mudah dilakukan, mulai dari pembersihan, perebusan untuk melunakkan jaringan, pengeringan, hingga penggilingan. Hasil akhirnya adalah tepung ceker ayam yang lebih awet, mudah disimpan, dan fleksibel penggunaannya. Teknologi seperti ini tidak harus rumit atau mahal, tetapi justru relevan untuk skala rumah tangga maupun usaha kecil.
Di dapur keluarga, tepung ceker ayam dapat dimanfaatkan sebagai penambah nilai gizi pada berbagai masakan. Dicampurkan ke dalam sup, bubur, bakso, atau olahan lainnya, tepung ini berfungsi memperkaya rasa sekaligus menyumbang protein kolagen tanpa mengubah karakter makanan secara mencolok. Cara ini juga membantu keluarga, termasuk anak-anak, memperoleh asupan gizi dengan cara yang lebih praktis dan dapat diterima.
Jika ditarik ke skala yang lebih luas, tepung ceker ayam juga membuka peluang pengembangan industri berbasis bahan lokal. Kolagen yang terkandung di dalamnya dapat diekstraksi lebih lanjut menjadi gelatin, bahan yang banyak digunakan dalam industri pangan maupun non- pangan. Dalam industri makanan, gelatin berperan sebagai pembentuk tekstur dan penstabil, sementara di luar pangan dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik, hingga berbagai produk teknis lainnya.
