SUMEDANG EKPRES – Gatotkaca, si jagoan bersayap baja, ternyata sudah lama pensiun. Keningnya ditempeli koyo cabe, tanda lagi masuk angin plus pusing mikirin negeri. Generasi sekarang? Mana ada yang kenal sama si kumis baplang ini.
Mereka lebih kenal superhero Marvel daripada tokoh pewayangan yang bisa terbang tanpa tiket pesawat.
Tapi kabar burung (bukan Garuda, apalagi emprit) bilang, Gatotkaca mau turun gunung lagi.
Baca Juga:Warga Pasar Tolak Relokasi dan Tuntut Kades MundurIngin Mengembangkan Usaha? Pahami Proses Pengurusan KKPR Berikut Ini
Katanya ada “pituka-pituka” yang akan seenaknya terbang di langit Hastinesia, kayak orang main layangan di genteng tetangga tanpa permisi.
Burung Garuda? Cuma bisa nganggur di kandang, mirip ayam kampung yang disuruh jaga rumah tapi malah sibuk ngais tanah.
Saudara-saudaranya, Antasena dan Antareja, juga ikut pusing. Mereka sudah lama ribut sama “cacing-cacing raksasa” yang nyedot isi perut bumi Hastinesia.
Laut pun tak luput: diaduk-aduk kayak kolak bulan puasa, tapi hasilnya bukan kesejahteraan rakyat, melainkan keuntungan segelintir Pituka.
“Mas Bro,” kata Antareja, “dari dulu harta karun kita diobral murah. Rakyat cuma dapat debu, Pituka dapat emas.” Antasena menimpali, “Laut kita pun jadi playground kecoa-kecoa pengintai. Mereka tahu isi perut bumi kita lebih detail daripada kita sendiri.”
Gatotkaca makin pening. Kalau Pituka bebas masuk, anak-anak Hastinesia bisa gagal main layangan. Bayangin, lagi asyik narik benang, eh ketabrak capung impor.
Belum lagi kalau capung itu bawa wabah. Lengkap sudah penderitaan.
Solusinya? Belajar dari Simorgh, burung phoenix Persia, yang bisa menjaga harga diri bangsanya. Atau ngopi bareng Liong Naga dari negeri Bambu dan Zhar-ptitsa, burung api Rusia.
Baca Juga:Mentri Nusron Siapkan Lahan di Berbagai Wilayah, Dukung Pembangunan Hunian Vertikal & Kota SatelitBantuan KDM Ringankan Beban Mahasiswa Unpad Bayar Kontrakan dan UKT
Sementara Garuda kita jangan sampai jadi burung emprit yang gampang ditakut-takuti.
Gatotkaca lalu ingat pesan Bung Karno: berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Ingat juga Bung Hatta: kedaulatan itu 100%, bukan diskon 50% kayak promo e-commerce.
Akhirnya Gatotkaca berteriak:
“Terbanglah Garudaku, jagalah angkasa Indonesia. Jangan jadi burung emprit yang cuma bisa ciap-ciap di pojokan kandang!” begitu kata Gatotkaca, sambil melepas koyo cabe di jidatnya. (Kang Marbawi, 190426)
