Tanamkan Literasi Sejak Dini, Kadis Arpus Sumedang: Matikan Gawai, Hidupkan Cerita

SAFARI LITERASI
MEMAPARKAN: Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sumedang Hari Tri Santosa menyampaikan materi kepada peserta Safari Literasi bertema Membangun Literasi Melalui Integritas dan Kolaborasi Pemerintah dan Pegiat Literasi di Kantor Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sumedang, Kamis (25/6/2026).(Erwin/Sumeks)
0 Komentar

KOTA – Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sumedang Hari Tri Santosa mengajak orang tua lebih aktif membangun budaya literasi di lingkungan keluarga. Di tengah meningkatnya penggunaan gawai oleh anak-anak, ia menilai kebiasaan membaca dan mendengarkan cerita perlu kembali dihidupkan sebagai bagian dari pendidikan sejak dini.

Ajakan itu disampaikan Hari saat menjadi narasumber dalam Safari Literasi bertema Membangun Literasi Melalui Integritas dan Kolaborasi Pemerintah dan Pegiat Literasi di halaman Kantor Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sumedang, Kamis, 25 Juni 2026.

Menurut Hari, pembentukan budaya literasi membutuhkan proses panjang dan tidak bisa dilakukan secara instan. Anak-anak yang sejak kecil terbiasa berinteraksi dengan buku dan kegiatan membaca memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan kebiasaan tersebut hingga dewasa.

Baca Juga:Bunda Literasi Sumedang: Kekerasan Anak Masih Tinggi, Literasi Digital Harus DiperkuatHarga Bawang Putih di Sumedang Tembus HET

“Menguatkan literasi pada anak harus dimulai sejak dini. Karena ketika sudah dewasa akan lebih sulit membentuk kebiasaan itu. Meski demikian, tidak ada kata terlambat untuk mulai membangun budaya literasi,” kata dia.

Hari menilai tantangan literasi saat ini bukan lagi terbatas pada akses informasi. Persoalan yang lebih besar adalah kemampuan masyarakat dalam menyaring dan memanfaatkan informasi yang tersedia melalui berbagai platform digital.

Karena itu, ia menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak menggunakan teknologi. Gawai, menurut dia, dapat menjadi sarana belajar yang bermanfaat apabila digunakan secara tepat dan dengan pengawasan yang memadai.

Ia menegaskan bahwa literasi bukan semata tanggung jawab sekolah atau pemerintah. Keluarga memegang peran utama dalam membentuk kebiasaan membaca, berpikir kritis, dan belajar sepanjang hayat.

“Perlu adanya kesadaran bersama dari orang tua dan anak. Orang tua harus hadir mendampingi, sementara anak juga perlu dibiasakan untuk mencintai kegiatan membaca dan belajar,” ujarnya.

Hari berharap gerakan literasi di Kabupaten Sumedang tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Ia menginginkan budaya membaca tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan masyarakat.

Menurut dia, langkah sederhana seperti mengurangi waktu menatap layar dan menggantinya dengan membaca buku atau mendengarkan cerita dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat budaya literasi anak di tengah derasnya arus informasi digital. (win)

0 Komentar