Merdeka Itu, Didengarkan!

Merdeka Itu, Didengarkan!
Merdeka itu bukan sekadar bisa teriak “Merdeka!” di podium, lalu pulang dengan kuping ditutup rapat macam pintu kamar kos yang nunggak bayar listrik. Merdeka itu maaf ya bisa jadi cukup punya kuping yang berfungsi
0 Komentar

Tapi elit kita masih percaya bahwa kata-kata itu hanya berguna kalau keluar dari mulut mereka sendiri. Padahal kata-kata rakyat kecil, meski sederhana, bisa lebih tajam daripada pisau dapur.

Jadi, wahai para elit (pun kita), jangan biarkan kekerasan (verbal) merampas ruang akal sehat. Belajarlah mendengar sebelum rakyat belajar berteriak.

Karena kalau rakyat sudah berteriak, kuping Anda bisa jebol, dan demokrasi bisa ikut tuli. Jangan sampai republik ini berubah jadi konser heavy metal: suaranya keras, tapi pesannya kosong.

Baca Juga:Lantik 1.361 Pejabat ATR/BPN, Sekjen: Amanah Baru untuk Jadi Motor Penggerak PerubahanPawai Lampion Semarakkan HUT ke-81 RI, 35 Peserta Suguhkan Kreasi Khas Sumedang

“Pemimpin itu harus bisa mendengarkan suara rakyat, mendengarkan keluh kesah rakyat, sebab suara mereka itu jujur,” kata Megawati Soekarno Putri.

Merdeka itu bukan sekadar teriak, tapi mendengar lirih suara rakyat. Kalau tidak, merdeka hanya jadi slogan di baliho, bukan kenyataan di dapur.

Dan rakyat kecil akan berkata: “Belum Merdeka” seperti kata tukang cukur di Bogor – walau kemudian dia minta maaf.

Selamat HUT ke-81 RI. Merdeka itu bukan sekadar teriak, tapi mendengar. MERDEKA!!! (#Kang Marbawi, 170826)

0 Komentar