Dompet Yang Belum Merdeka! Pak Presiden Merdeka!

Dompet Yang Belum Merdeka! Pak Presiden Merdeka!
Sejak tanggal 10 Agustus, sang saka Merah Putih telah berkibar dengan gagah di peralon atau bambu yang dijadikan galah di setiap rumah.
0 Komentar

Bukan buat foya-foya. Tapi buat beli beras, bayar listrik, sekolah anak serta seabrek kebutuhan dasar lainnya.

Dompet kami setia ditemani Pattimura terus, Pak Presiden. Soekarno-Hatta, ogah mampir, apalagi menetap.

Tiap dia masuk, langsung permisi untuk melawan kebutuhan hidup sehari-hari. Kadang nongol serangan mendadak, tagihan pajak dan lainnya. Membuat semakin pusing pemilik dompet.

Baca Juga:Parade Perahu Pasirtugaran Jadi Magnet Wisata Baru dan Penggerak Ekonomi Masyarakat Jatigede293 Kontingen Sumedang Siap Berlaga di PORSENI Jabar

“Indonesia Adil dan Makmur”, itu cita-cita luhur yang harus diwujudkan. Namun sementara ini di kampung kami translate-nya: “Makmur, kalau bisa ngirit.”

Lalu Korupsi?

Oh itu mah sudah jadi udara Pak. Menghirup tanpa sadar. Seolah apapun bisa dikorupsi. Proyek jalan 1 M, cuma jadi 300 meter. Bansos dikurangin. Dana desa buat infrastruktur, tapi mangkrak. Kasus apapun ada harganya. Konon minimal 74 kg emas, harga dari satu kasus. Hingga Robert K. Merton mengoceh hal ini sebagai -Anomie-. norma sudah rusak. Yang jujur dianggap bodoh. Rapuh etika pejabat publik, jadi trend.

Pak Presiden, jadi tolong. Merdekakan kami bukan hanya dengan upacara dan pidato. Tapi merdekakan data kami. Bikin platform digital punya negara.

Merdekakan SDA kami sesuai pasal 33 UUD 1945. Pangkas oligarkhi. Jangan biarkan 50 orang itu terus yang ngatur 280 juta orang.

Merdekakan dompet kami. Agar Soekarno Hatta betah mendiaminya. Merdekakan kesejahteraan guru-guru honor. Kejar koruptor sampai ke liang semut. Mumpung Bapak sedang berkuasa.

Karena kalau tidak, 17 Agustus tahun depan kami tetap akan upacara. Tetap lomba balap karung. Tetap teriak Merdeka! Nasionalisme kami tak akan luntur sampai kapanpun!

Tapi di dalam hati kecil, kami berbisik:

“Dompet Kami belum Merdeka…Pak Presiden” Salam dari kami, yang dompetnya belum 17-an.

(#Kang Marbawi, 210226)

0 Komentar