SUMEDANGEKSPRES – Sejak tanggal 10 Agustus, sang saka Merah Putih telah berkibar dengan gagah di peralon atau bambu yang dijadikan galah di setiap rumah.
Umbul-umbul dari kain bekas spanduk ditempel lakban terbentang untuk menutupi arena lomba 17 Agustusan.
Pagi 17 Agustus, sound sistem pinjaman musolah yang suaranya kresek-kresek, terpasang. Tapi semangatnya? Menggelegar. Di gang kami, lagu Indonesia Raya dinyanyikan dipinggir makam. Sebab tak ada lapangan.
Baca Juga:Parade Perahu Pasirtugaran Jadi Magnet Wisata Baru dan Penggerak Ekonomi Masyarakat Jatigede293 Kontingen Sumedang Siap Berlaga di PORSENI Jabar
Tak ada Paspampres. Tak ada karpet merah. Apalagi godybag mewah. Yang ada, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak, yang mau ikut lomba; pecahkan plastik berisi air dengan mata tertutup, goyang balon, lomba make-up istri, lomba balap karung, lomba makan kerupuk dan masih banyak lagi.
Hadiahnya? Minyak goreng satu (1) liter dan mie instan lima (5) bungkus. Anggarannya dari mana? Urunan Rp25.000 per KK (kepala keluarga).Transparan, tak lewat aplikasi. Alih-alih mark-up 300%.
Walaupun kami orang pinggiran yang kadang tak dihitung elit dan baru masuk hitungan kala pemilu, nasionalisme kami tak luntur.
Nasionalisme kami murah Pak, tapi tulus. Dari balita yang baru belajar lari sampai nenek-nenek yang giginya tinggal dua (2), semua turun. Ini namanya -communitas- kebersamaan sementara yang menyetarakan dan menyatukan, kata Victor Turner. Di lapangan, kepala RT (rukun tetangga) dan tukang cilok sama-sama jatuh saat lomba bakiak. Tidak ada kasta.
Sayangnya Pak, semangat 17-an ini hanya bertahan tiga (3) hari. Tanggal 20 Agustus, kami kembali ke realita: berjuang mengisi dompet Kami yang belum merdeka.
Pak Presiden, kita sudah 81 tahun merdeka. Soekarno bilang kemerdekaan itu jembatan emas. Betul. Tapi yang lewat di jembatan itu siapa?
Kalau merdeka artinya tidak dijajah Belanda-Jepang, Alhamdulillah lulus sudah. Tapi kalau merdeka artinya berdaulat atas diri sendiri, data sendiri, dan dompet sendiri… mohon maaf, sepertinya kami masih berjuang.
Pertama: Penjajahan Algoritma
Baca Juga:Kombinasi Momentum Kemerdekaan dan Maulid NabiBerkontribusi dalam Pengembangan Geotermal, Kementrian ATR/ BPN Dapat Penghargaan dari Kementrian ESDM
Kami dijajah aplikasi Pak. Bangun tidur buka TikTok. Mau jualan atau nyari barang, buka market place. Mau ngomong buka WhatsApp. Semua jadi mudah dan gratis. Tapi yang gratis itu kami.
Sejak jari ini ngeklik aplikasi itu, data kami, wajah, lokasi, selera, pilihan politik, pikiran, bahkan hidup kami, semua dihisap. Lalu dijual lagi ke kami dalam bentuk iklan. Shoshana Zuboff menyebutnya -Surveillance Capitalism-. Kapitalisme yang dagangannya adalah perilaku manusia. Kehidupan kita diserahkan dan diatur algoritma.
