Dompet Yang Belum Merdeka! Pak Presiden Merdeka!

Dompet Yang Belum Merdeka! Pak Presiden Merdeka!
Sejak tanggal 10 Agustus, sang saka Merah Putih telah berkibar dengan gagah di peralon atau bambu yang dijadikan galah di setiap rumah.
0 Komentar

Kami kira, kami megang HP (hand phone). Padahal HP yang megang kami. Algoritma yang nentuin kami harus marah sama siapa hari ini, harus beli apa besok, harus pilih siapa presidennya walau masih dua (2) tahun lagi. Pak Presiden pun, sepertinya bisa kalah sama FYP-for your page- loh.

Kedaulatan data itu sama dengan kedaulatan negara. Kalau data kita dipegang server di luar negeri, terus kemerdekaan digital kita di mana?

Kedua: Penjajahan Oligarkhi. Ini yang paling ngilu Pak.

Tengok saja laporan CELIOS -Center of Economic and Law Studies-, hanya 50 orang di Indonesia yang benar-benar merdeka.

Baca Juga:Parade Perahu Pasirtugaran Jadi Magnet Wisata Baru dan Penggerak Ekonomi Masyarakat Jatigede293 Kontingen Sumedang Siap Berlaga di PORSENI Jabar

Konon saking merdekanya, mereka bebas menentukan penguasa, nentuin UU (undang-undang), nentuin siapa boleh nambang, siapa boleh nebang, siapa boleh impor. Benarkah? Entahlah.

Kelakuan macam ini, namanya -Power Elite- kata C. Wright Mills. Ada segelintir orang/kelompok yang menguasai tiga (3) menara: ekonomi, politik, dan militer. Menara ekonomi itu, konglomerasi/oligarkhi. Menara politik, ya partai. Menara militer… ya kadang rangkap jabatan. Otak kami tak sampai, memikirkan ocehannya si Wright Mills itu. Dan semoga semua itu tak terjadi di negeri yang kita cintai ini.

Soal oligarkh, bisa dengarkan juga igauannya Grace Blakeley dalam -Vulture Capitalism- 2024. Dia menyebut mereka-si oligarkhi, “kapitalisme pemakan bangkai”. Modelnya begini: keruk SDA (sumber daya alam)- sawit, nikel, batubara, dll- pakai izin negara.

Operasionalnya, pakai pinjaman dari negara. Ketika untung, untuk pribadi. Ketika rugi, minta negara nalangin.

Sementara rusaknya alam – banjir, longsor, sungai-laut tercemar, bencana kematian, ditanggung rakyat dan negara. Tapi oligarkh penyebab kerusakan tak dituntut, lenggang kangkung.

Jadi kemerdekaan bagi 50 orang itu artinya: bebas mengeruk apapun yang ada di darat, di dalam tanah, di laut dan di udara. Kemerdekaan bagi 280 juta lainnya sepertinya: bebas antri sembako.

Ketiga: Pattimura di Dompet, Ini yang paling dasar Pak.

Sejak kakek, bapak (kakek dan bapak kami masih ikut berjuang melawan Belanda dan Jepang), sampai kami sendiri, perjuangan utama kami satu: mengisi dompet.

0 Komentar