Kehidupan warga juga lekat dengan alam. Sebagian besar bekerja sebagai petani dan pekebun. Peternakan sapi menjadi pekerjaan lain yang cukup menonjol. Hampir setiap rumah memiliki kandang sapi.
Bangbayang juga dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil gula aren atau gula kawung. Belakangan, tanaman kopi mulai dikembangkan di kawasan sekitar hutan. Umar menyebut sekitar 30 hektare lahan telah ditanami kopi.
“Sekarang di kawasan hutan dan sekitar hutan ditanami kopi, sekitar 30 hektare sudah ditanami kopi,” katanya.
Baca Juga:Komitmen Perkuat Ekosistem LiterasiJalan Ciater Galudra Mulai Diperbaiki
Keterpencilan Bangbayang masih terasa dari sisi transportasi. Tidak tersedia angkutan umum menuju desa tersebut. Warga yang menggunakan ojek harus membayar sekitar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu sekali perjalanan. Pada malam hari tarifnya dapat mencapai Rp50 ribu.
Kondisi itu perlahan berubah seiring hampir seluruh warga memiliki sepeda motor. Kendaraan roda dua menjadi sarana utama untuk keluar-masuk desa.
Di balik kesan terpencil itu, Bangbayang menyimpan tempat-tempat yang mulai dilirik sebagai tujuan wisata. Salah satunya kawasan hutan pinus di Kampung Sadaray. Selain menjadi tempat rekreasi, lokasi tersebut dikenal warga sebagai tempat untuk melakukan meditasi.
Ada pula Curug Cikidang. Air terjun setinggi sekitar 20 meter itu berada sekitar 750 meter dari ujung kampung. Untuk mencapainya, pengunjung harus berjalan kaki menyusuri aliran Sungai Cicapar.
Pemerintah desa telah membuat kolam kecil dengan membendung sebagian aliran air menggunakan bronjong. Penataan sederhana itu menjadi bagian dari upaya memanfaatkan potensi alam tanpa menghilangkan karakter kawasan.
Bangbayang memang berada di tepian hutan. Kawasan hutan di sekitar desa masih lebat dan sebagian merupakan kawasan lindung. Warga setempat juga memiliki cerita mengenai satwa liar yang hidup di dalamnya, termasuk harimau yang oleh sebagian orang dikaitkan dengan kisah keberadaan Harimau Jawa.
Namun sejarah Bangbayang sendiri masih menyimpan banyak ruang kosong. Asal-usul Kampung Buhun dan alasan mengapa jumlah rumahnya harus bertahan pada angka 70 belum memiliki penjelasan yang terang.
Baca Juga:Siaga Musim Hujan Pemkab Perkuat Mitigasi Bencana Bupati Dony Monitoring West Java Paragliding Championship di Batudua, Peserta Dubai Puji Sumedang
Angka itu kini seperti batas tak tertulis. Rumah boleh berpindah tangan, keluarga bisa datang dan pergi, jalan desa boleh semakin mulus, kopi mulai tumbuh di tepian hutan, dan Curug Cikidang mulai dikenal orang. Tapi di Kampung Buhun, 70 rumah tetap menjadi angka yang diwariskan bersama cerita yang belum sepenuhnya terungkap.(red)
