Prof. Atje Setiawan Abdullah Raih Rekor MURI

Prof. Atje Setiawan Abdullah Raih Rekor MURI
foto: istimewa
0 Komentar

 

Ia juga melakukan penelitian mengenai klasifikasi nama tempat (Toponimi) di Indonesia menggunakan data nama desa seluruh Indonesia yang dikeluarkan Badan Informasi Geospasial. Melalui analisis matematis yang dilakukan, ia menemukan ada irisan nama-nama desa yang sering muncul di berbagai wilayah di seluruh Indonesia yang dibagi ke dalam 6 pulau besar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap wilayah di Indonesia memiliki kekhasan dan perbedaan.  Dalam prakteknya kita harus menghargai perbedaan dan menjunjung kebersamaan yang menggambarkan ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Pengolahan data Etno-informatika untuk Antroponimi dan Toponimi dilakukan menggunakan pemrograman Java dan perangkat lunak yang dibangun telah mendapatkan Hak Cipta dari Kemenkumham Republik Indonesia.

Kajian yang dilakukan Atje sebenarnya sederhana. Bahkan tidak jarang orang yang mempertanyakaan manfaat dari kajian tersebut.

Baca Juga:Pandemi, PTM SMA Negeri 1 Cimanggung DihentikanBenteng Batarai, Pertahanan Belanda Untuk Memantau Pesisir Indramayu

“Dulu banyak yang bertanya kepada saya, apa untungnya meneliti budaya ini? Seiring waktu saya tahu jawabannya, teknologi informasi bisa digunakan untuk menyebarkan informasi budaya baik nasional dan internasional,” tuturnya.

Atje melanjutkan, masyarakat umumnya sulit memahami berbagai istilah dalam bidang Matematika ataupun Teknik Informatika. Namun, ternyata jika diterapkan pada fenomena yang ada di masyarakat, ilmu tersebut akan lebih bermanfaat.

“Sederhana saja, masyarakat secara umum  itu bukan ingin diberikan pemahaman rumus yang canggih dan rumit, tetapi ingin mendapatkan  rumusan yang mudah dimengerti dan dapat diaplikasikan,” jelasnya.

Menyadari bahwa kajian ini masih terbilang baru,  Atje “berani” menamakannya sebagai kajian Etno-informatika. Diakuinya, belum ada sebelumnya yang mengenalkan konsep kajian ini. Dengan demikian, Prof. Atje menjadi pencetus istilah Etno-informatika.

“Di bidang ilmu komputer sendiri sudah ada istilah Data Masyarakat dan Data Historis, tetapi itu masih digambarkan secara umum. Nah, saya lebih fokus ke bidang Informatika untuk budaya ,” imbuh  Atje

Kajian ini pun konsisten diperkenalkan Prof. Atje pada beberapa forum ilmiah di berbagai perguruan tinggi dan persekolahan maupun pemerintahan. Puncaknya ketika ia diundang menjadi pembicara pada acara “Jaya Suprana Show” yang digelar Jaya Suprana Institute.

0 Komentar