Media Asing Soroti Kerusuhan Kanjuruhan, Kritisi Tindakan Polisi Saat Melakukan Pengamanan

Media Asing Soroti Kerusuhan Kanjuruhan, Kritisi Tindakan Polisi Saat Melakukan Pengamanan
Tragedi di Stadion Kanjuruhan disorot media asing dalam pemberitaan dan disebut salah satu peristiwa olahraga yang memakan banyak korban jiwa.-Ilustrasi/Dzulham Fadholi-radarcirebon.com
0 Komentar

sumedangekspres, CIREBON – Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang disoroti oleh media asing. Sampai sampai The New York Times mengkritisi peran polisi.

Banyaknya korban jiwa, menjadi alasan mengapa tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang, sampai disorot oleh media asing.

Tidak hanya itu, penanganan saat terjadi ricuh juga disorot dalam pemberitaan media asing terkait tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan.

Baca Juga:Karang Pamitran Kwarran Cimalaka 2022 Sukses DigelarHarga Kacang Kedelai Normal

“Petugas anti huru hara di Kota Malang memukuli penggemar sepak bola dengan tongkat dan perisai dan, tanpa peringatan, menyemprotkan gas air mata ke puluhan ribu penonton yang berkerumun di sebuah stadion,” tulis pemberitaan dari The New York Times.

Tidak hanya itu, pemberitaan itu juga menyoroti metode kepolisian memicu penyerbuan yang berujung pada kematian 125 orang. Salah satu bencana terburuk dalam sejarah olahraga.

Para ahli mengatakan tragedi itu mengungkap masalah sistemik yang dihadapi polisi, banyak di antaranya kurang terlatih dalam pengendalian massa dan sangat militeristik.

Dalam hampir semua kasus, para analis mengatakan, mereka tidak pernah harus menjawab kesalahan langkah.

Setelah kekerasan pada hari Sabtu, banyak orang Indonesia bersuara di Twitter untuk menyerukan agar Kapolri dipecat.

Pada Senin malam, hampir 16.000 orang telah menandatangani petisi yang menyerukan polisi untuk berhenti menggunakan gas air mata.

“Pemerintah bergerak cepat untuk meredam kemarahan publik, menskors kepala polisi di Malang dan berjanji untuk mengumumkan nama-nama tersangka yang bertanggung jawab atas tragedi itu dalam beberapa hari,”  tulis pemberitaan yang sama.

Baca Juga:Desa Gudang Andalkan Ternak DombaSukagalih Salurkan BLT BBM Bersih

Dalam pemberitaan itu, The New York Times menyebut bahawa polisi di Indonesia tidak pernah sekuat ini. Selama tiga dasawarsa pemerintahan Presiden Suharto, militerlah yang dipandang sangat berkuasa.

Tetapi setelah kejatuhannya pada tahun 1998, sebagai bagian dari serangkaian reformasi, pemerintah menyerahkan tanggung jawab keamanan internal kepada polisi, memberikan kekuatan yang sangat besar kepada kepolisian.

Wirya Adiwena, wakil direktur Amnesty International Indonesia, mengatakan “hampir tidak pernah ada” pengadilan atas penggunaan kekuatan polisi yang berlebihan kecuali pada 2019, ketika dua mahasiswa tewas di Pulau Sulawesi selama protes.

Selain The New York Times, pemberitaan media seperti Al Jazeera, Reuters hingga South China Morning Post juga menyoroti insiden di Stadion Kanjuruhan Malang. (red)

0 Komentar