Sejarah Cipaku Darmaraja Sumedang yang Sudah Hilang Terendam

Sejarah Cipaku Darmaraja Sumedang yang Sudah Hilang Terendam
(Tangkapan layar youtube manusia proyek)
0 Komentar

sumedangeskpres – Sejarah Cipaku Darmaraja Sumedang. Cipaku berasal dari Ci dan Paku dimana Ci artinya Cahaya dan Paku Pakuning Alam, Paku Alam, Paku Kesadaran, Paku Pengikat Semesta dengan tulisan Batu Satangtung, Linggayana, Lingga Hyang, Linggih, Hadirat.

Cipaku adalah cahaya alam Pakuning, cahaya Tuhan yang hadir dalam diri dan alam semesta. Cipaku adalah ilmu atau cara untuk mengenal diri sendiri dan Tuhan Yang Maha Esa, yang dipraktikkan oleh nenek moyang nusantara pada masa lalu.

Setelah dua tahun tergenang air dari Bendungan Jatigede, satu tempat di Cipaku Sumedang masih belum tergenang air, yakni tempat Astana Gede Cipaku yang seharusnya terendam 10 meter di atas permukaan air Bendungan.

Baca Juga:Resep Membuat Mile Crepes Durian yang Manisnya Pas!Villa Sangiang Bedil di Sumedang Pemandangan yang Menakjubkan

Jika tidak membanjiri Astana Gede Cipaku yang letaknya di tepi Bendungan Jatigede, mungkin itu adalah pesan ilahi/pesan universal bahwa dewa yang maha esa Inku Putu Cipaku masih mengizinkan anda untuk mengelilingi tempat Astana Gede Cipaku untuk dirawat.

Seperti yang kita ketahui, nenek moyang Cipaku sudah tinggal di Ngahyang, Kalanggengan, tidak tersentuh oleh unsur alam semesta, yaitu air, tanah, tanah, dan angin.

Bahkan menurut Pantun Buhun Cipaku, mereka semua diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sebelum terciptanya alam semesta.

Menurut cerita para tokoh masyarakat, kota Cipaku berawal dari masa penjajahan Belanda pada tahun 1890-an. Konon di daerah kampung kami (perkampungan sekarang disebut Kampung Cipaku), ada pohon beruang yang tinggi, besar dan kuat.

Berbuah, namun keberadaannya satu-satunya di desa kami, meskipun pohon seperti itu tidak ada di desa lain di daerah Paseh, pohon ini unik, tidak pernah berbunga tetapi selalu berbuah, pohon itu menjadi “pohon CIPAKU” disebut.

Maka dari itu para pemimpin waktu berunding untuk memberi nama desa kami “Desa Cipaku” untuk melestarikan nama pohon Paku dan belajar dari pohon ini, karena pemimpin waktu berpikir bahwa desa akan maju dan mandiri seperti Paku ini.

Pohon. besar dan tanak, selalu berbuah banyak dan jarang terlihat karena kelangkaannya, banyak orang memburu dan mencarinya.

0 Komentar