SUMEDANG EKSPRES, TANJUNGSARI – Sepekan setelah perayaan Tahun Baru 2026, harga kebutuhan pokok di pasar tradisional masih bertahan di level tinggi. Kondisi ini membuat aktivitas jual beli belum kembali normal dan daya beli masyarakat masih tertekan.
Pantauan di Pasar Tradisional Tanjungsari menunjukkan sejumlah komoditas pangan utama belum mengalami penurunan harga. Cabai rawit hijau masih menjadi salah satu penyumbang inflasi pasar, dengan harga naik dari Rp60 ribu menjadi Rp80 ribu per kilogram.
Tak hanya cabai, harga tomat juga melonjak cukup tajam, dari Rp6 ribu menjadi Rp10 ribu per kilogram. Kenaikan serupa terjadi pada komoditas ikan dan sayuran.
Baca Juga:Kemenkes Waspadai Super Flu, Dinkes Sumedang Pastikan Belum Ada KasusHampir 3 Tahun Tanpa Mufakat, Revitalisasi Pasar Cimalaka Picu Jeritan Pedagang
Untuk ikan, bandeng naik dari Rp32 ribu menjadi Rp34 ribu per kilogram, sedangkan tongkol dari Rp35 ribu menjadi Rp36 ribu per kilogram. Sementara itu, harga sayuran seperti sosin naik dari Rp7 ribu menjadi Rp8 ribu per kilogram, dan timun dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu per kilogram.
Kondisi ini berdampak langsung pada menurunnya transaksi di pasar. Pedagang mengaku pembeli kini lebih selektif dan cenderung mengurangi jumlah belanja.
“Harga cabai memang masih tinggi, pasokan juga belum lancar. Pembeli banyak yang ngurangin belanja,” ujar Cepi, petugas pemantauan harga Stap UPT Pasar Tradisional Tanjungsari.
Ia menyebut, kenaikan harga tidak diimbangi dengan peningkatan daya beli masyarakat. Akibatnya, omzet pedagang mengalami penurunan cukup signifikan.
“Rata-rata penjualan pedagang turun sekitar 30 persen dibandingkan kondisi normal,” katanya.
Para pedagang berharap pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok, baik melalui pengendalian distribusi, penguatan pasokan, maupun langkah intervensi lainnya. Mereka khawatir jika kondisi ini dibiarkan berlarut, aktivitas pasar tradisional akan semakin lesu dan berdampak pada ekonomi rakyat kecil. (kos)
