SUMEDANG 2025: Investasi Rp5,6 Triliun Mengalir, 105 Ribu Warga Masih Miskin, 39 Ribu Menganggur

Investasi Rp36,67 Triliun Mengalir, 105 Ribu Warga Masih Miskin dan 39 Ribu Menganggur
Ilustrasi - Seorang anak mendorong gerobak sederhana di tengah arus lalu lintas perkotaan, sementara dua anak lain duduk di atasnya. (Dok. Jabar Ekspres)
0 Komentar

“Tidak boleh ada kegiatan yang diputuskan tanpa dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” tegas Dony.

PENGANGGURAN: Luka Lama di Tengah Investasi Baru

Di balik pembangunan jalan tol dan kawasan industri, pengangguran justru menjadi paradoks pembangunan Sumedang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, hingga 2025, jumlah pengangguran terbuka di Sumedang mencapai 39.818 orang dari total lebih 600 ribu angkatan kerja.

Baca Juga:Tiang Listrik PT PLN Keropos Bertahun-tahun Dibiarkan, Pedagang Pasar Parakanmuncang Terpaksa Tambal SendiriWaspada Modus Penipuan Tilang Elektronik, Satlantas Polres Sumedang Tegaskan ETLE Hanya Lewat Kanal Resmi

Sumedang selama puluhan tahun bergantung pada industri tekstil di kawasan barat: Rancaekek, Cimanggung, Jatinangor. Namun perubahan global memukul sektor tersebut.

“Satu perusahaan besar yang dulu mempekerjakan 35 ribu orang, kini tinggal sekitar 22 ribu,” ujar Bambang Setiawan, Kabid Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja Disnakertrans Sumedang.

Penyusutan industri tekstil membuat struktur ketenagakerjaan bergeser. Lapangan kerja baru tumbuh di sektor keuangan, pembiayaan, dan layanan digital, tetapi kesiapan tenaga kerja lokal belum sepenuhnya mengimbangi.

“Minat masih rendah karena keterampilan nonteknis belum siap,” kata Bambang.

TRANSFORMASI TENAGA KERJA: Mengejar Ketertinggalan

Menjawab tantangan tersebut, Disnakertrans Sumedang mulai mengubah pendekatan. Dari pola reaktif menjadi sistem berbasis data kebutuhan industri.

Lebih dari 5.000 pencari kerja kini terdaftar di aplikasi Siap Kerja, yang menjadi basis penyusunan pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK).

“Kami tidak ingin pelatihan hanya berdasarkan keinginan peserta, tapi kebutuhan riil perusahaan,” tegas Bambang.

Baca Juga:Usai Revitalisasi Gedung, Ria Busana Sumedang Tampil Lebih Modern dan Hadirkan Promo MenarikKondisi Jalan di Belakang Pasar Modern Sumedang Dibiarkan, Warga Pertanyakan Keseriusan Pemda

Tahun 2026 ditargetkan menjadi titik balik, dengan penyusunan peta kebutuhan tenaga kerja mikro per perusahaan. Peta ini akan menjadi fondasi kurikulum pelatihan hingga kerja sama dengan SMK.

Mini Job Fair Tematik sektor keuangan dan perbankan yang akan digelar November mendatang menjadi uji coba perubahan pola tersebut.

Sumedang berada di persimpangan penting. Investasi terus tumbuh, infrastruktur melaju, angka makro membaik. Namun selama pengangguran dan kemiskinan masih membayangi puluhan ribu warga, pembangunan belum sepenuhnya inklusif.

Tantangan ke depan bukan lagi soal mendatangkan investasi, melainkan memastikan investasi berpihak pada tenaga kerja lokal, mengurangi kemiskinan, dan menciptakan keadilan ekonomi.

Jika tidak, angka triliunan rupiah hanya akan menjadi statistik, sementara kesenjangan tetap nyata di kehidupan sehari-hari warga Sumedang. (red)

0 Komentar