KABUPATEN Sumedang mencatat capaian gemilang di atas kertas. Sepanjang 2025, realisasi investasi di Kawasan Rebana Metropolitan mencapai Rp36,67 triliun, dengan Sumedang menjadi salah satu daerah penopang utama.
Namun di balik derasnya arus modal dan geliat pembangunan infrastruktur, tersimpan ironi pembangunan: 105.820 jiwa penduduk miskin dan 39.818 orang pengangguran masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Pertanyaannya sederhana: sejauh mana investasi benar-benar menyentuh persoalan kesejahteraan masyarakat bawah?
Baca Juga:Tiang Listrik PT PLN Keropos Bertahun-tahun Dibiarkan, Pedagang Pasar Parakanmuncang Terpaksa Tambal SendiriWaspada Modus Penipuan Tilang Elektronik, Satlantas Polres Sumedang Tegaskan ETLE Hanya Lewat Kanal Resmi
Pada 2025, realisasi investasi di Kabupaten Sumedang mencapai Rp5,6 triliun, berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA) Rp621,39 miliar dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp6,01 triliun. Capaian tersebut turut mengukuhkan posisi Sumedang sebagai kawasan strategis di Rebana Metropolitan.
“Dengan capaian investasi itu, bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 5.876 orang,” kata Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, Rabu (21/1/2026).
Bupati menegaskan, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas pemangku kepentingan dan komitmen pemerintah daerah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif.
“Investasi tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat nyata melalui penciptaan lapangan kerja,” ujarnya.
Namun jika ditarik ke skala makro sosial, angka penyerapan tenaga kerja itu masih jauh dari cukup. Dengan pengangguran terbuka hampir 40 ribu orang, investasi yang masuk baru menyentuh sebagian kecil kebutuhan pasar kerja lokal.
Keberadaan Tol Cisumdawu dan konektivitas menuju Bandara Kertajati memang membuka kran investasi lebih lebar. Tapi pertumbuhan ekonomi yang cepat belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pemerataan kesejahteraan.
KEMISKINAN: Turun Angka, Berat Tantangannya
Di sisi lain, Pemkab Sumedang mencatat penurunan angka kemiskinan dari 9,01 persen menjadi 8,08 persen, dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 75,5, peringkat ketiga kabupaten se-Jawa Barat.
Bupati Dony menekankan, pengentasan kemiskinan tidak bisa dilakukan secara parsial.
Baca Juga:Usai Revitalisasi Gedung, Ria Busana Sumedang Tampil Lebih Modern dan Hadirkan Promo MenarikKondisi Jalan di Belakang Pasar Modern Sumedang Dibiarkan, Warga Pertanyakan Keseriusan Pemda
“Ketika berbicara tentang kemiskinan, sejatinya kita sedang membicarakan martabat manusia. Maka penanganannya tidak boleh setengah hati,” kata Dony saat membuka Rapat Koordinasi Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, Desember 2025.
Pendekatan graduasi–bertahap, terukur, dan berbasis data–menjadi strategi utama. Namun dengan 105.820 jiwa penduduk miskin, tantangan terbesar bukan sekadar menurunkan persentase, melainkan memutus rantai kemiskinan struktural.
