Rafika Adnur : Dari Sarjana Pertanian Menjadi Ketua HIPMI Sumedang

Rafika Adnur : Dari Sarjana Pertanian Menjadi Ketua HIPMI Sumedang
Ketua HIPMI Cabang Sumedang, Rafika Adnur, saat memberikan keterangan mengenai perjalanan bisnis dan kiprahnya dalam membina pengusaha muda di Kabupaten Sumedang. (Istimewa)
0 Komentar

SUMEDANGEKPSPRES, KOTA – Perjalanan karier Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Cabang Sumedang, Rafika Adnur, terbilang unik.

Lulusan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) itu kini dikenal sebagai pengusaha yang bergerak di berbagai bidang usaha, mulai dari jasa pengendalian hewan liar, produksi bisa ular untuk kebutuhan industri farmasi, hingga menjabat sebagai General Manager PO Bus Medal Sekarwangi.

Rafika mengungkapkan ketertarikannya terhadap dunia pertanian sudah tumbuh sejak kecil. Ia mengaku terinspirasi oleh ibunya yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah pertanian.

Baca Juga:Oh MBG, Oh IroniPenutupan Latsarmil Komcad Gelombang I 2026, Wamen Ossy Sebut Latsarmil Perkuat Karakter dan Integritas ASN

“Saya lulusan S1 Pertanian Unpad. Dari kecil memang punya ketertarikan di bidang pertanian karena terinspirasi dari ibu saya yang mengajar di sekolah pertanian. Saya meyakini pertanian adalah kebutuhan pokok yang sampai kapan pun akan diperlukan,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat, (5/6).

Keyakinan tersebut mendorongnya memulai usaha di bidang pertanian sejak masih duduk di bangku kuliah. Seiring berjalannya waktu, usaha yang dirintis berkembang hingga merambah sektor kuliner dan berbagai bidang usaha lainnya.

Namun, perjalanan bisnis Rafika tidak berhenti di sana. Hobi memelihara ular yang digelutinya sejak kecil justru membuka peluang usaha yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Menurut Rafika, sekitar tahun 2008 saat masih berstatus mahasiswa, ia mulai menerima permintaan dari berbagai perusahaan untuk membantu menangani permasalahan ular dan hewan liar di area operasional mereka.

“Dari hobi memelihara ular, ternyata ada perusahaan yang membutuhkan jasa penanganan ular. Dari situ saya mulai menekuni bidang tersebut dan ternyata kebutuhannya sangat besar, terutama di sektor pertambangan, migas, dan industri lainnya,” katanya.

Usaha yang semula berawal dari komunitas penghobi dan kegiatan kepramukaan itu kemudian berkembang menjadi lembaga edukasi, hingga akhirnya berdiri sebagai perusahaan berbadan hukum. Saat ini, perusahaan yang dipimpinnya tidak hanya bergerak di bidang pengendalian hewan liar, tetapi juga memproduksi bisa ular yang digunakan sebagai bahan baku industri farmasi.

Rafika menjelaskan, produksi bisa ular mulai dikembangkan secara serius sejak 2022 setelah hasil riset yang dilakukan bersama timnya mendapat respons positif dari industri farmasi.

0 Komentar