Selama Lima Bulan, Dinkes Sumedang Catat 57 Kasus HIV Baru, Kelompok LSL Mendominasi

Ilustrasi HIV
Ilustrasi
0 Komentar

KOTA – Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang mengingatkan meningkatnya risiko penularan HIV dan infeksi menular seksual (IMS) pada kelompok usia produktif, terutama remaja dan dewasa muda.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang Surdi Sudiana, rendahnya literasi kesehatan reproduksi, paparan konten digital tanpa filter, serta perilaku seksual berisiko dinilai menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian serius.

Selain itu, Surdi pun menegaskan kesehatan reproduksi remaja tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup aspek psikologis, sosial, serta kemampuan membangun relasi yang sehat sesuai norma dan nilai yang berlaku di masyarakat.

Baca Juga:Jurus Dinkes Sumedang Cegah HIV dan IMS pada RemajaTanamkan Literasi Sejak Dini, Kadis Arpus Sumedang: Matikan Gawai, Hidupkan Cerita

Ia menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase yang rentan terhadap pengambilan keputusan impulsif. Berdasarkan teori Dual Systems Model, perkembangan sistem emosional pada otak berlangsung lebih cepat dibandingkan pusat pengendalian diri dan pengambilan keputusan rasional.

“Kondisi ini membuat remaja lebih mudah terpengaruh tekanan lingkungan, termasuk dalam perilaku seksual berisiko,” kata Surdi dalam paparannya pada kegiatan Kesehatan Reproduksi Remaja dan Pencegahan Perilaku Berisiko melalui zoom, Rabu, 24 Juni 2026, kemarin.

Dinas Kesehatan mencatat sejumlah perilaku yang berpotensi meningkatkan risiko penularan HIV dan IMS, di antaranya hubungan seksual pranikah tanpa pengaman, kecanduan pornografi, penyalahgunaan narkotika, serta perilaku seksual yang memiliki tingkat kerentanan penularan lebih tinggi berdasarkan kajian epidemiologi.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang menunjukkan terdapat 57 kasus HIV yang tercatat pada Januari hingga Mei 2026. Dari jumlah tersebut, kelompok laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) menjadi kelompok dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 26 kasus. Sementara kelompok pekerja seks tercatat sembilan kasus dan pelanggan pekerja seks lima kasus.

Menurut Surdi, berbagai penelitian dan data epidemiologi menunjukkan kelompok LSL termasuk populasi kunci dengan risiko penularan HIV yang lebih tinggi dibanding populasi umum.

“Dari perspektif kesehatan masyarakat, kelompok ini menjadi salah satu fokus penting dalam upaya edukasi, pencegahan, skrining, dan pengobatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, lebih dari 50 persen kasus infeksi HIV baru secara nasional terjadi pada usia produktif. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini agar remaja memiliki pemahaman yang benar mengenai risiko dan cara pencegahannya.

0 Komentar