SUMEDANGEKSPRES – Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir menjadi narasumber pada agenda internasional ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting 2026 yang digelar di Aula Rempeg Jagapati, Kantor Bupati Banyuwangi, Jalan A. Yani No.100, Senin (20/7/2026).
Dalam forum yang mempertemukan para pemimpin daerah dan pemangku kepentingan Smart City di kawasan ASEAN tersebut, Bupati Dony memaparkan perkembangan, tantangan, sekaligus arah pengembangan Smart City Kabupaten Sumedang.
Bupati menjelaskan, Sumedang telah mengajukan tiga proyek utama dalam pengembangan Smart City. Satu proyek telah berhasil diselesaikan, yakni penurunan angka stunting melalui platform digital e-Simpati (Sistem Informasi Pencegahan Stunting Terintegrasi) yang kini menjadi bagian dari pelayanan bagi ibu hamil, balita, dan remaja putri serta telah terintegrasi dalam budaya kerja pemerintah daerah.
Baca Juga:Puncak Satu Dekade KAA di Sumedang Ditutup Tablig AkbarMulya Suryadi Siap Emban Amanah PPP, Bidik Estafet Kepemimpinan Sumedang pada Pilkada 2029
“Digitalisasi bukan sekadar menghadirkan teknologi, tetapi bagaimana teknologi mampu menyelesaikan persoalan nyata masyarakat. e-Simpati menjadi bukti bahwa transformasi digital dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan menekan angka stunting,” ujar Dony.
Selain itu, dua proyek yang sedang berjalan adalah Jatinangor City of Digital Knowledge dan e-Office Desa Super App, sementara proyek yang tengah dipersiapkan adalah Sumedang Green Smart Industrial Park di kawasan Butom yang meliputi Kecamatan Wado, Cibugel, dan Tomo.
Pada proyek Jatinangor City of Digital Knowledge, Bupati Dony menjelaskan bahwa Jatinangor memiliki potensi besar sebagai pusat ekonomi dan pendidikan karena dihuni enam perguruan tinggi terkemuka serta berbatasan langsung dengan Kota Bandung.
Sejumlah capaian telah diraih, di antaranya penandatanganan nota kesepahaman dengan APJATEL untuk penataan infrastruktur telekomunikasi, pelatihan kecerdasan buatan (AI) bagi 1.000 aparatur desa bekerja sama dengan ASEAN Foundation dan Universitas Padjadjaran, pemetaan regulasi Kawasan Ekonomi Khusus Jatinangor, hingga persiapan ekosistem smart village.
Namun demikian, Bupati Dony mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, seperti keterbatasan kewenangan pemerintah daerah, akses pasar bagi pelaku usaha kecil, serta resistensi terhadap perubahan.
“Karena itu kami membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak dalam penguatan rantai pasok, pendampingan UMKM, percepatan pembiayaan, dan peningkatan literasi digital masyarakat,” katanya.
