MUSIM kemarau membawa persoalan baru bagi kawasan pendidikan di Desa Licin, Kecamatan Cimalaka. Bukan sekadar udara yang kering, tetapi juga kepulan debu dari aktivitas galian pasir yang setiap hari menyelimuti lingkungan kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Sumedang.
Debu yang terbawa angin itu kini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan ribuan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan yang beraktivitas di kawasan tersebut.
Wakil Direktur II UPI Kampus Sumedang, Dr. Maulana, S.Pd., M.Pd., mengatakan kampus di Desa Licin memiliki dua gedung utama yang menjadi pusat kegiatan akademik berbagai program studi, termasuk Keperawatan dan Industri Pariwisata.
Baca Juga:Redkar, Garda Terdepan Sebelum Sirene BerbunyiMonitoring Bangunan Liar Berujung Temuan 93 Botol Miras di Jatinangor
Menurutnya, dalam satu pekan lebih dari 3.000 civitas akademika beraktivitas di lokasi tersebut.
“Dengan kepadatan civitas akademika yang begitu tinggi, pencemaran debu akibat aktivitas galian pasir yang melintasi kawasan kampus tentu sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dampak debu paling dirasakan oleh civitas akademika yang memiliki riwayat gangguan pernapasan. Bahkan, sejumlah keluhan kesehatan mulai terdeteksi seiring meningkatnya intensitas aktivitas penambangan.
“Debu yang berterbangan tak terkendali sangat membahayakan, khususnya bagi civitas yang memiliki riwayat gangguan pernapasan. Beberapa kasus sudah mulai terdeteksi,” katanya.
Sebagai kampus yang memiliki Program Studi Keperawatan, UPI, lanjut Maulana, memiliki kemampuan melakukan pemantauan terhadap dampak kesehatan yang dialami mahasiswa maupun pegawai.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin terasa dalam beberapa waktu terakhir karena aktivitas penambangan dinilai semakin masif.
UPI Sumedang pun telah menyampaikan surat resmi kepada pemerintah desa sebagai bentuk permohonan agar dilakukan langkah-langkah penanganan terhadap polusi debu.
Baca Juga:Program KB Sumedang Lampaui Target 207 PersenHijrah ASN: Melayani dengan Iman, Bekerja dengan Integritas
Maulana mengingatkan, kawasan Desa Licin bukan hanya menjadi lokasi UPI, tetapi juga terdapat sejumlah sekolah lain mulai dari SD, SMP, SMA, SMK hingga SLB yang turut berpotensi terdampak.
“Anak-anak sekolah tentu lebih sensitif terhadap paparan debu. Karena itu persoalan ini tidak hanya menyangkut kampus, tetapi juga lingkungan pendidikan secara keseluruhan,” ujarnya.
UPI berharap Pemerintah Kabupaten Sumedang bersama Dinas Lingkungan Hidup dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret, termasuk mendorong perusahaan tambang melakukan pengendalian debu melalui penyiraman jalan secara rutin maupun upaya mitigasi lainnya.
