HIJRAH tidak selalu dimulai dengan perpindahan langkah. Kadang ia lahir dari perubahan cara memandang pekerjaan. Dari rutinitas yang semula sekadar kewajiban, menjadi pengabdian yang diyakini bernilai ibadah.
Gagasan itu mengemuka dalam Ta’lim Aparatur yang diikuti Aparatur Sipil Negara (ASN) Kecamatan Cimalaka, Rabu (22/7). Di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, para ASN diajak memaknai hijrah sebagai transformasi etos kerja, bukan sekadar simbol religius.
Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Cimalaka, Dadang Nurholis, mengatakan hijrah bagi seorang ASN berarti meninggalkan kebiasaan bekerja secara biasa menuju pengabdian yang dilandasi keikhlasan, profesionalisme, dan tanggung jawab.
Baca Juga:Barak Ditata, Jalan Dikembalikan pada FungsinyaPemdes Sukagalih Jemput Bola PBB
“Seorang ASN yang berhijrah adalah ASN yang setiap pagi melangkah ke kantor bukan sekadar mengejar gaji, tetapi mengejar ridha Allah SWT,” ujarnya.
Menurut Dadang, masyarakat kini hidup di era digital yang menuntut pelayanan publik berlangsung cepat. Namun kecepatan, katanya, tidak boleh mengorbankan ketelitian maupun integritas.
Ia mencontohkan Rasulullah SAW sebagai teladan pribadi yang sigap sekaligus amanah. Semangat itulah yang seharusnya menjadi karakter aparatur negara dalam menjalankan tugas.
“Hijrah ASN berarti meninggalkan budaya menunda pekerjaan menuju budaya menyelesaikan amanah dengan segera dan berkualitas, serta menjadi pribadi yang adaptif tanpa kehilangan prinsip,” katanya.
Di tengah berkembangnya kecerdasan buatan, digitalisasi, dan berbagai inovasi birokrasi, Dadang menilai teknologi hanyalah alat. Yang menentukan kualitas pelayanan tetaplah karakter manusianya.
Kejujuran, amanah, dan integritas, menurutnya, merupakan nilai yang tidak boleh berubah meski sistem pemerintahan terus berkembang.
Ia mengibaratkan ASN sebagai pohon yang akarnya harus tetap kuat meski diterpa perubahan.
Baca Juga:Digitalisasi Pembelajaran untuk Pendidikan Bermutu "Komitmen UPI Meningkatkan Kompetensi Digital Guru SD"Antrean Mengular di RS Pakuwon, Pasien Keluhkan Lambannya Pelayanan
“Pohon yang baik akan bergoyang diterpa angin, tetapi akarnya tetap kokoh. Begitu pula ASN yang beriman, mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan prinsip,” ujarnya.
Selain adaptif, ASN juga dituntut disiplin, ulet, dan terus belajar. Hijrah, kata Dadang, tidak cukup berhenti pada semangat, melainkan harus diwujudkan dalam konsistensi menjalankan amanah.
Ia juga mengingatkan agar tekanan pekerjaan tidak mengikis etika pelayanan. Wajah ramah, tutur kata yang santun, serta kesabaran menghadapi masyarakat merupakan bagian dari kualitas pelayanan publik.
