Kisah Ika Yuanita Bangun Bisnis Kopi Kingkaf dari Nol hingga Tembus Pasar Global Bersama BRI

Kisah Ika Yuanita Bangun Bisnis Kopi Kingkaf dari Nol hingga Tembus Pasar Global Bersama BRI
Kisah Ika Yuanita Bangun Bisnis Kopi Kingkaf dari Nol hingga Tembus Pasar Global Bersama BRI
0 Komentar

SUMEDANG EKSPRES – Secangkir kopi mengantarkan Ika Yuanita pada perjalanan bisnis yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Berawal dari kepeduliannya terhadap petani kopi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Ika mulai merintis PT Kingkaf Makmur Sejahtera pada 2017.

Kini, produk yang awalnya dibangun melalui proses sederhana tersebut telah berkembang dan menjangkau konsumen di berbagai negara.

Baca Juga:Kecamatan Cisarua Sosialisasikan Pilkades, Tekankan Musyawarah dan Kelancaran TahapanHadiri Akad Massal 62.000 KPR Rumah Subsidi, Menteri Nusron: Legalitas Tanah Beri Kepastian bagi Masyarakat

Perjalanan Kingkaf dimulai ketika Ika melihat potensi besar hasil panen kopi petani lokal yang belum diolah secara optimal.

Keterbatasan pemahaman mengenai proses pascapanen membuat kopi yang dihasilkan petani belum memiliki nilai tambah yang memadai.

Kondisi tersebut kemudian mendorong Ika untuk mendampingi petani sekaligus membawa kopi lokal Batang menembus pasar yang lebih luas.

Namun, membangun pasar dari nol bukanlah perkara mudah. Tanpa jaringan distribusi yang mapan, Ika memasarkan produknya secara langsung dari satu calon pelanggan ke pelanggan lainnya. Ia mendatangi rekan, kenalan, hingga komunitas yang dinilai memiliki ketertarikan terhadap produknya. “Pada awalnya, proses penjualan kopi kami lakukan secara door to door melalui rekanan dan kenalan,” kenang Ika.

Perlahan, respons pasar mulai tumbuh. Usaha yang mulanya dijalankan melalui penjualan langsung itu kemudian berkembang menjadi kedai kopi dan restoran. Dalam perjalanannya, Kingkaf bahkan sempat memiliki enam outlet, sebuah pencapaian yang menandai perkembangan bisnisnya dari produk rumahan menjadi usaha kuliner yang semakin dikenal.

Sayangnya, ketika pandemi Covid-19 melanda, enam outlet yang sebelumnya menjadi tumpuan bisnis Kingkaf menghadapi tekanan. Pembatasan aktivitas masyarakat membuat Ika harus mengambil keputusan besar: mempertahankan pola lama atau mencari cara baru agar usahanya tetap berjalan.

Di tengah situasi tersebut, Ika kemudian mengalihkan fokus Kingkaf dari bisnis kedai dan restoran ke penjualan produk kemasan melalui jaringan reseller. Keputusan tersebut menjadi titik balik bagi Kingkaf. Produk yang sebelumnya bergantung pada kunjungan konsumen ke outlet mulai menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan sebagai mitra penjualan.

Baca Juga:Kades Licin Minta Adanya Kordinasi Dari Pengawas KDMPPerkuat Implementasi IKU 2025-2029, Sekjen ATR/BPN Tekankan Keselarasan Indikator Kinerja Pusat dan Daerah

Seiring bertambahnya reseller dan meluasnya jangkauan pemasaran, kebutuhan Kingkaf pun menjadi semakin kompleks. Ika tidak lagi hanya memikirkan bagaimana menghasilkan produk yang baik, tetapi juga bagaimana mengelola transaksi, permodalan, pemasaran digital, hingga kapasitas produksi secara lebih tertata.

0 Komentar