NU adalah organisasi yang lahir dari denyut nadi rakyat kecil, dari langgar kampung hingga pesantren besar. Ia bukan sekadar mesin politik, melainkan civil society avant garde yang pernah mengawal transisi demokrasi, memperjuangkan pluralisme, dan membela kelompok minoritas. Kini, tantangannya adalah bagaimana NU tetap kritis tanpa kehilangan elan vitalnya, tetap menjadi mitra negara tanpa kehilangan independensi.
Dengan begitu, NU tetap bisa menjadi civil society avant garde: berdaulat, kritis, sekaligus mitra strategis negara.
Pertanyaannya: apakah NU akan terus bertransformasi dari oposisi kritis menjadi mitra strategis negara, tanpa kehilangan akar sebagai civil society? Jawabannya, seperti biasa, ada di tangan sejarah. Dan sejarah NU itu kadang bikin ketawa, kadang bikin geleng kepala, tapi selalu penuh makna. Selamat berkhidmah KH Miftahul Akhyar dan Gus Kikin. Pesan nahdliyin: kuatkan NU sebagai civil society seperti dulu. (#Kang Marbawi, 310826)
