oleh

Puisi: Hikayat Ekspedisi Tulang Rusuk yang Hilang

Hikayat Ekspedisi Tulang Rusuk yang Hilang

oleh: Muhammad Iqbal Khoironnahya

 

I.
di Sumedang, kita berladang puisi
dari benih-benih afeksi
yang kita anyam dan derukan saban pagi.

kau lahir dari gersang tanah di dadaku
kau mekar di bawah teduh mata sorot waktu
yang menjelmakanmu dalam peta pengembaraan hidup
tempat di mana kutemukan arah

dari doa-doa yang menyentuh mataku
menyusun kata dan pertanyaan-pertanyaan pendedah paldu

—kau dan aku kuyup terbasuh rindu.

II.

di Tampomas, kita mendaki makna; menanam tunas
atas khayal-khayal yang bernas menjadi napas
dari dua insan yang begitu giat mengasah tajam kata
agar kelak menjadi sajak yang beraksara nirmala.

setibanya di puncak, panorama pandang tak lekang dari wajahmu
yang menyusun candu—menyalangkan mataku.

pada akhirnya kita saling baca
dan di sudut kabut matamu, aku menaruh tanya
: bolehkah kita menjadi miniatur doa sepertiga malam?

III.

lantas, gemuruh amin terintis di telingaku
menihilkan luka masa lampau
yang menyusun nyeri,
memadamkan api renjana di tungku kepalaku.

namun, semenjak muara renjanaku mekar di dadamu
kau menjelma Sirah Cipelang;
mata air yang menyejukkan
tempat bagiku merindangkan rambu kesetiaan.

sebab, telah kujelajahi seluruh petak daratan
kuarungi palung sendi lautan terdalam

namun arah tuju tetaplah kau
—nyalar menatang rusukku yang telah lama menghilang.

Sleman, 21 Maret 2022

 

Baca juga : Dusta Pria di Cadas Pangeran

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.