sumedangekspres, TANJUNGSARI – Perkembangan teknologi digital mulai merambah hingga ke pasar tradisional. Di Pasar Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, hampir seluruh pedagang sudah beralih menggunakan sistem pembayaran digital melalui QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
Menurut Kepala UPT Pasar Tanjungsari M Nasir saat ini sekitar 70 persen transaksi belanja konsumen kepada pedagang sudah menggunakan metode pembayaran tersebut. Meskipun transformasi digital berjalan cukup baik, ia mengungkapkan adanya penurunan kunjungan konsumen ke pasar.
“Kunjungan konsumen ke pasar ada penurunan, mungkin saja kondisi ekonomi sekarang,” katanya, Senin (9/9).
Baca Juga:120 Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Periode 2024-2029 Resmi DilantikDPRD Provinsi Jawa Barat Gelar Rapat Paripurna Pengumuman Pembentukan Fraksi-Fraksi Masa Jabatan 2024-2029
Hal tersebut menunjukkan bahwa meski digitalisasi sudah mulai diterapkan, daya beli masyarakat masih menjadi tantangan tersendiri. Di sisi lain, meskipun jumlah konsumen menurun, harga kebutuhan pokok justru mengalami penurunan.
Penurunan harga dianggap sebagai salah satu faktor positif yang bisa mendorong masyarakat kembali berbelanja di pasar tradisional. Dia menambahkan bahwa retribusi pasar pun kini sudah menggunakan QRIS yang terintegrasi dengan Bank BJB, sehingga memudahkan para pedagang untuk membayar kewajiban mereka.
Namun, penggunaan QRIS ternyata tidak sepenuhnya tanpa kendala. Ia mengungkapkan bahwa ada beberapa pedagang yang mengalami keterlambatan dalam menerima uang dari transaksi yang dibayarkan melalui QRIS.
“Pembayaran dengan QRIS tidak langsung masuk ke rekening pedagang. Biasanya ada jeda waktu sekitar satu hari,” terangnya.
Hal itu tentunya menjadi tantangan bagi para pedagang, terutama yang bergantung pada perputaran uang cepat. Keterlambatan tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh kendala dari pihak bank yang belum sepenuhnya memahami atau mengatasi permasalahan tersebut.
“Kami juga belum memahami secara detail kendala seperti itu, mungkin saja ada masalah dari salah satu bank yang bekerja sama,” tambahnya.
Meski begitu, pihak pasar terus berupaya mencari solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan demi kelancaran transaksi antara pedagang dan konsumen. Transformasi digital melalui QRIS di pasar tradisional seperti Pasar Tanjungsari diharapkan dapat menjadi contoh bagi pasar-pasar lainnya di Sumedang temasuk pasar tradisional pasar Parakanmuncang yang saat ini sedang berjalan.
Baca Juga:KPU Sumedang Terima Berkas Perbaikan dari PaslonDana Desa Tahap 2 Desa Padasuka: Prioritaskan Infrastruktur dan Kesehatan
“Dengan memanfaatkan teknologi pembayaran digital, proses transaksi diharapkan bisa menjadi lebih cepat, aman, dan efisien, sehingga menarik kembali minat konsumen untuk berbelanja di pasar tradisional,” pungkasnya. (kos)
