SUMEDANG EKSPRES, KOTA – Puluhan pelajar Pesantren Khoiru Ummah Cimalaka mengawali masa masuk sekolah pascalibur dengan cara berbeda.
Mereka melakukan kunjungan edukatif ke Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Sumedang, Senin (12/1/2026), untuk menumbuhkan kembali suasana belajar secara bertahap.
Guru pendamping Pesantren Khoiru Ummah, R. A. Audia Rahma Paradisa, mengatakan kunjungan ke perpustakaan menjadi strategi awal agar santri tidak langsung terbebani aktivitas belajar penuh setelah libur panjang.
Baca Juga:Deru Aneh Sejak Subuh, Warga Rancaekek Resah Suara Mesin Diduga dari Arah PT Kahatex36 Persen Warga Sumedang Merokok, Rata-rata Habiskan 78 Batang Rokok per Minggu
“Di awal masuk sekolah, anak-anak biasanya masih terbawa suasana liburan. Melalui kunjungan ke perpustakaan, kami ingin mengondisikan mereka agar kembali terbiasa dengan kegiatan belajar secara perlahan,” ujar Audia saat ditemui di Perpusda Sumedang.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 31 santri hadir dari total 42 santri yang terdaftar. Sejumlah santri lainnya belum dapat mengikuti kunjungan karena masih berada di rumah atau dalam kondisi kurang sehat.
Audia menjelaskan, masa liburan kerap membuat anak-anak lebih banyak bermain sehingga perlu proses adaptasi sebelum kembali fokus mengikuti pembelajaran di kelas. Menurutnya, perpustakaan menjadi ruang yang tepat untuk memulai kembali kebiasaan belajar tanpa tekanan.
Selain sebagai sarana adaptasi, kunjungan ini juga menjadi upaya menumbuhkan minat baca di tengah tantangan era digital. Audia menilai, dominasi gawai dan media sosial turut memengaruhi kebiasaan membaca anak-anak.
“Konten video singkat yang instan membuat anak cepat bosan. Sementara membaca buku membutuhkan waktu dan konsentrasi lebih panjang. Ini tantangan yang harus dihadapi bersama,” jelasnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa lingkungan sangat berperan dalam membentuk minat baca. Di lingkungan pesantren, penggunaan telepon genggam dibatasi sehingga santri justru menunjukkan ketertarikan yang cukup tinggi terhadap aktivitas membaca.
“Kalau di pesantren, anak-anak relatif lebih fokus membaca karena tidak terganggu gawai. Berbeda saat di rumah, kebiasaan itu sangat dipengaruhi oleh contoh dari orang tua,” katanya.
Baca Juga:Angka Perokok di Sumedang Masih Tinggi, Belanja Rokok Lampaui Kebutuhan PokokPenolakan Revitalisasi Pasar Menguat, Pemdes Cimalaka Buka Opsi Audiensi dengan Pedagang
Audia juga menilai teknologi tidak sepenuhnya berdampak negatif. Gawai, menurutnya, tetap dapat dimanfaatkan sebagai sarana literasi melalui artikel, jurnal, dan laman edukatif, selama penggunaannya terkontrol dengan baik.
