Jika Tiba Saatnya

Jika Tiba Saatnya
Nak, doa orang tua itu bukan sekadar bisikan lirih di sajadah. Ia lebih mirip jam dinding tua di ruang tamu: kadang telat lima menit, kadang bunyinya serak, tapi tetap jadi penanda waktu.
0 Komentar

Jangan pernah kalian melupakan dari mana asal-usulmu, akar kehidupanmu. Akar itu tak pernah ikut pindah rumah.

Orang tua dan saudara adalah tanah tempat awal kau berdiri. Jangan sampai kau jadi pohon bonsai: indah dipajang, tapi tercerabut dari tanah asalnya.

Andai tiba waktunya, kami menjadi tua bersama dengan segala keuzuran yang jadi perhiasan hidup kami walau kami tak ingin merepotkan dan membebani kalian semua, uruslah kami dengan sabar.

Baca Juga:Beras Cv Sarana Putra 2 Masuk Klasifikasi Yang Diterima BulogDirut Bulog Sidak ke Penggilingan Padi di Buahdua Sumedang

Sampaikan kepada pasangan hidupmu, kepada anak-anakmu-cucu kami, agar ihlas dan sabar mengurus kami. Tengoklah kami jika kalian berada jauh dari rumah.

Kebahagiaan kami sederhana: melihat senyum kalian untuk kami, meski gigi kami tinggal dua.

Kami pernah melihat tetangga kami, sebut saja Mak Ijah, duduk di kursi goyangnya, menatap pintu rumah yang tak pernah diketuk anak-anaknya.

Mereka sibuk di kota, sibuk di kantor, sibuk di mall. Mak Ijah hanya ditemani radio tua yang suaranya lebih sering berdesis daripada menyanyi. Nak, jangan sampai rumahmu jadi seperti itu: bandara yang ditinggalkan, lampu landasan – silaturami, padam, dan menara kontrol-orang tua, hanya dihuni kesepian.

Nak, doa dan restu kami ini bukan sekadar kata-kata. Ia adalah bensin yang membuat rajawali bisa terbang.

Tapi ingat, bensin itu tak bisa diisi ulang kalau pompa bensinnya kau abaikan. Doa orang tua, percayalah, tak pernah pensiun. Tapi jangan sampai doa itu hanya jadi monolog di kamar sepi, sementara anak-anaknya sibuk mantengin kehidupan maya di gadget. Maafkan aku abah-emih, bapak-ibu, tak selalu menemani kalian dimasa tuamu. (#Kang Marbawi, 010826)

0 Komentar