10 Hektare Jadi Laboratorium Padi

10 Hektare Jadi Laboratorium Padi
BERI KETERANGAN: Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sumedang Tono Suhartono berikan keterangan kepada awak media, Senin (31/8).(Dok Sumeks)
0 Komentar

SUMEDANGEKSPRES – Pemerintah Kabupaten Sumedang menjadikan lahan sawah seluas 10 hektare di Desa Banyuasih, Kecamatan Tanjungkerta, sebagai laboratorium terbuka untuk menguji berbagai metode dan teknologi budidaya padi.

Hasil uji coba itu akan menjadi acuan untuk menentukan pola pertanian yang bisa diterapkan lebih luas.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sumedang Tono Suhartono mengatakan lahan tersebut akan digunakan untuk menguji varietas, pola tanam, pemupukan, hingga penggunaan teknologi pertanian. Menurut dia, program itu merupakan bagian dari inovasi pemerintah daerah bersama sejumlah lembaga pertanian dan perguruan tinggi.

Baca Juga:Jalankan Program Kerja Prioritas Nasional 2027, Kemen ATR/BPN Fokuskan Anggaran untuk Ketapang dan Sertipikasi836 KPM Terima Bantuan Beras

“Ini merupakan inovasi program dari Pak Bupati Sumedang, termasuk Kementerian Pertanian,” kata Tono di kantornya, Senin, (31/8).

Produktivitas padi di Sumedang saat ini berkisar 5-7 ton per hektare setiap musim tanam. Tono menargetkan berbagai perlakuan di lahan uji tersebut mampu meningkatkan produktivitas sedikitnya 1 ton per hektare.

Namun, peningkatan produksi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pemerintah juga akan menghitung efisiensi biaya dan dampaknya terhadap kesejahteraan petani.

“Nanti nilai tukar petani juga kita ukur. Kita akan analisis usahanya, sehingga bukan hanya produksinya meningkat, tetapi biaya produksinya juga efektif dan efisien,” ujarnya.

Lahan seluas 10 hektare itu dibagi kepada sejumlah mitra. Universitas Padjadjaran mendapat bagian 2 hektare, Universitas Winaya Mukti 2 hektare, Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian 4 hektare, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional 2 hektare.

Varietas yang ditanam antara lain Invago, Ciherang, Inpari 32, dan Inpari 49. Metode tanam juga dibuat berbeda, mulai dari tanam benih langsung atau tabela hingga sistem jajar legowo.

Perlakuan pemupukan pun tidak diseragamkan. Sebagian petak menggunakan pupuk kandang, pupuk kimia, serta kombinasi pupuk organik dan kimia. Penggunaan pestisida dan insektisida juga menjadi bagian dari pengujian.

Baca Juga:Ayam dan Cabai Kian MahalUPI Kampus Sumedang Gelar PkM, Peningkatan Kompetensi Pencegahan dan Penanggulangan Cedera Olahraga

Sebelum penanaman, kondisi tanah diperiksa melalui pengukuran pH dan unsur hara. Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan perlakuan pada masing-masing petak.

Produktivitas lahan sebelum penerapan metode baru juga telah diukur melalui pengubinan bersama pihak statistik. Data awal itu akan digunakan sebagai pembanding terhadap hasil panen setelah perlakuan diterapkan.

0 Komentar