SUMEDANGEKSPRES – Ribuan orang berjubel, bukan untuk sebuah konser bahkan bukan pula untuk kampanye.
Mereka datang membawa satu tujuan, yakni bershalawat, mengenang Rasulullah SAW, sekaligus menundukkan hati di hadapan Allah SWT.
Pondok Pesantren Islam Internasional Terpadu Asy-Syifaa Wal Mahmudiyyah di Dusun Simpang, Desa Haurngombong, dipadati umat dari berbagai daerah.
Baca Juga:Bupati Dony Pilih Diam Soal Wabup: Jangan Berasumsi!Gerbang  DPRD Sumedang Ambruk, Aktivis Desak Kasus  Wabup DibukaÂ
Tidak hanya dari Jawa Barat. Jamaah dari luar Jawa Barat pun berdatangan.
Mereka menghadiri Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW ke-1501 Tahun 1448 Hijriah, Minggu (6/9/2026).
Acara itu sekaligus dirangkaikan dengan doa bersama memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia.
Tetapi bagi pimpinan pesantren, Abuya KH Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir Al Manafi MA, maulid bukan sekadar acara tahunan, ada yang lebih penting dari itu, yakni mengenal Rasulullah SAW, mencintainya dan membawa kecintaan itu ke dalam kehidupan sehari-hari.
“Tujuan kita berkumpul di majelis ini adalah mengenal Rasulullah, mengajak kita untuk bertaubat bagi yang masih banyak salah, memperbaiki diri dan menambal segala kekurangan,” ujar Abuya.
Ia mengajak jamaah berhenti sejenak mengejar urusan dunia.
Duduk dengan khusyuk, menundukkan wajah serta merendahkan diri di hadapan Allah.
“Di majelis ini kita melepas segala keterikatan kepada dunia yang ada pada diri kita. Kita duduk dengan khusyuk, seolah-olah berada di hadapan Nabi Muhammad SAW,” kata Abuya.
Baca Juga:Golkar Sumedang Panaskan Musda, Sidik Jafar: Kami Usulkan Tanggal 22 September, Mudah-mudahan DisepakatiAdira Expo Hadir di Sumedang, Promo Cicilan Hingga Kesempatan Lunas
Pesannya sederhana, Abuya meminta para jemaah jangan sampai pulang dari majelis, hanya membawa lelah.
“Harus ada yang berubah. Hati, misalnya, kemudian perilaku, tindakan dan ucapan,” ucap Abuya, tegas.
Sebab, kata Abuya, Rasulullah SAW telah membawa ilmu dan petunjuk kepada umat manusia. Melalui ajarannya, manusia belajar mengenal Allah, membedakan kebenaran dan kebatilan, serta menemukan jalan untuk mendekat kepada-Nya.
“Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah harus melahirkan rasa syukur. Termasuk syukur atas kemerdekaan Indonesia,” kata Abuya.
“Marilah kita bersama-sama mensyukuri semuanya. Termasuk kita mengenang dan mensyukuri anugerah kemerdekaan yang sangat mahal ini,” kata Abuya lagi.
Tetapi, sambung Abuya, kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan, kemerdekaan harus dijaga, salah satunya dengan menjaga persaudaraan.
